Militan Islam Minta Umat Kristen Tinggalkan Utara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Goodluck Jonathan. AP/Remy de la Mauviniere

    Goodluck Jonathan. AP/Remy de la Mauviniere

    TEMPO.CO, Militan Islam dari kelompok Boko Haram meminta umat Kristen setempat agar meninggalkan wilayah utara Nigeria dalam waktu tiga hari di tengah-tengah aksi kekerasan yang kian meningkat.

    Salah seorang juru bicara Boko Haram, Abul Qaga, mengatakan Ahad lalu para pejuang Boko Haram bersiap-siap melnacarkan perang melawan pasukan pemerintah yang dikirimkan ke kawasan tersebut menyusul perintah Presiden Goodluck Jonathan pada Sabtu untuk membasmi kaum militan.

    "Kami akan berperang dan melindungi saudara-saudara kami," kata Abul Qaga melalui telepon kepada media setempat. Dia juga menyerukan agar umat Islam yang tinggal di selatan Nigeria "segera kembali ke utara karena kami memiliki bukti akan diserang."

    Beberapa pekan ini, eskalasi bentrokan antara Boko Haram dengan pasukan pemerintah di utara negara bagian Borno dan Yobe meningkat menyusul serangan terhadap gereja di sana. Akibat serangan itu, sedikitnya 30 orang tewas saat mereka memperingati Hari Natal di gereja Katolik dekat ibu kota Abuja.

    Aktivis hak asasi manusia Shebu Sani mengatakan kepada CNN bahwa ancaman Boko Haram belakangan ini bisa dipercaya, tetapi banyak umat Kristen yang lahir di utara dan punya tempat untuk pergi. "Pembunuhan akan terus berlanjut," katanya.

    Penduduk Nigeria memiliki umat Kristen dan Islam dengan jumlah sebanding. Sisi sebelah selatan dihuni oleh umat Kristen. Sedangkan Boko Haram dan kelompok Islam lainnya menguasai kawasan utara yang miskin sumber daya manusia dan terpinggirkan oleh pemerintahan Jonathan yang beragama Kristen. Boko Haram yang melarang menerapkan cara-cara Barat ingin menerapkan syariah Islam di Nigeria.

    CNN | CHOIRUL


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.