Museum Irak Beroperasi Kembali

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Gaghdad: Setelah berbenah selama enam bulan, akhirnya Museum Irak sudah bisa dibukauntuk umum. Pembukaan museum yang terletak dekat kampus Universitas Baghdad di Bab Muadham ini, dihadiri oleh para tentara Amerika, staf Universitas Bagdad, dan juga para mahasiswa. Renovasi ini merupakan kerjasama Coalition Provisional Authority (CPA) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Universitas Bagdad, dan US Army (Angkatan Darat Amerika). Sementara pendanaannya berasal dari USAgency for International Development (USAID). "Semua tahu betapa jahatnya para pencoleng mencuri barang-barang dari Museum ini," kata Letkol. John Kem, Komandan Batalion Insinyur 16, Brigade 1, Divisi Perbekalan Tentara Amerika. Masih menurut John Kem, hingga saat ini beberapa bagian di museum masih kosong, "Karena barangnya masih belum ditemukan." Untuk renovasi museum saja, sudah menghabiskan biaya sekitar US$ 10 ribu. "Tapi untuk keberlangsungan ilmu pengetahuan dan teknologi di Irak, biaya segitu belumlah seberapa," ujarnya.Dr. Hussein Abas Ali, kurator Museum Irak, mengatakan bahwa pihaknya akan terus menjalin kerja sama denganmuseum di Amerika dan Inggris. "Demi keberlangsungan proses renovasi," katanya. Selain museum, diresmikan pula kafe internet di Universitas Bagdad. Pihak CPA dan KementerianPendidikan telah menyediakan dana sebesar US$ 40 ribu untuk 20 komputer dan perlengkapan satelitnya. Sementara pihak Angkatan Darat Amerika, menyumbang US$ 10 ribu untuk membangun gedung. "Seluruh kontraktornya berasal dari lokal Irak," kata Kem. Dr. Joseph Ghougassian, mantan Duta Besar Amerika untuk Irak dan kini penasihat Menteri Pendidikan TinggiIrak, tak mau ketinggalan ikut memberikan wejangan. "Amerika adalah negara dari semua negara, negara paraimigran, negara yang didirikan untuk seluruh negara," katanya. Ia juga menegaskan, Tentara Koalisi datangsebagai pembebas rakyat Irak. "Kami tidak bermaksud menjajah, justru membebaskan rakyat Irak daripenjajahan," ujarnya. Rommy Fibri - Tempo

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.