AS Berkeluh Atasi Emisi Akibat Krisis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah aktivis Greenpeace melakukan aksi damai di  Jakarta,(19/02). Aksi ini menagih janji presiden SBY terhadap komitmennya untuk memangkas emisi dan memerangi perubahan iklim. TEMPO/Zulkarnain

    Sejumlah aktivis Greenpeace melakukan aksi damai di Jakarta,(19/02). Aksi ini menagih janji presiden SBY terhadap komitmennya untuk memangkas emisi dan memerangi perubahan iklim. TEMPO/Zulkarnain

    TEMPO Interaktif, Durban -- Negara-negara Industri membahas janji pemberian dana US$ 100 miliar dalam upaya mengurangi emisi karbon dunia. Pembahasan dana itu masih dinegosiasikan oleh sekitar 192 negara dan Uni Eropa yang ikut dalam Konferensi Perubahan Iklim dan disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa itu di Durban.

    Amerika dan negara Eropa sendiri masih terlilit utang akibat krisis. Akibatnya, negara-negara tersebut menginginkan negara lain terlibat dalam pemberian dana itu. "Kami berpikir dari waktu ke waktu negara-negara berkembang akan berkontribusi," kata Todd Stern, utusan khusus Amerika untuk perubahan iklim, Selasa, 29 November 2011.

    Amerika beralasan Cina, yang merupakan salah satu negara yang industrinya mulai tumbuh, memiliki kontribusi penghasil emisi terbesar gas rumah kaca. Negara maju masih harus menghadapi masalah industrialisasi. Amerika ingin berbagi beban finansial yang lebih luas.

    Cina yang mewakili negara berkembang mengharapkan negara maju mengeluarkan dana dan membantu negara miskin membayar program, dan kebijakan beradaptasi perubahan iklim. Negara berkembang juga mengharapkan kelanjutan dari Protokol Kyoto yang akan habis masa berlakunya 2012. Namun, Rusia, Kanada dan Jepang menolak dan tidak akan menandatangani putaran kedua Protokol Kyoto.

    Padahal, dampak perubahan iklim sudah dialami petani di negara-negara miskin. Petani di Afrika Selatan kini menanggung dampak perubahan iklim. Kekeringan dan musim hujan yang berkepanjangan telah menghancurkan tanaman. Para ilmuwan pun memprediksi cuaca lebih buruk akan memukul Afrika pada 50 tahun mendatang. Kini, Afrika hanya mampu memproduksi gandum seperempat dari kebutuhan lokal.

    Di Uganda, singkong sebagai makanan pokok warga kini telah banyak yang membusuk. Hujan yang berlebihan penyebabnya. "Cuaca ini membuat bingung," kata Okwi, warga setempat.

    Pantai Gading dan Ghana yang sangat tergantung pada kakao, menemui masalah cuaca yang terlalu panas sehingga bisa mematikan tanamannya. "Perubahan iklim mengubah segalanya di negara berkembang," Kata NJ Mxakato Diseko, perwakilan Afrika Selatan.

    WALLSTREET JOURNAL | EKO ARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.