Rumah Sakit Indonesia Tetap Berdiri di Gaza  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Petros Karadjias

    AP/Petros Karadjias

    TEMPO Interaktif, Gaza - Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang dibangun sejak Agustus 2011 di Bayt Al-Ihya, Gaza Utara, hampir menyelesaikan pembangunan tahap pertama dari tiga tahap yang direncanakan. Rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit terbesar kedua setelah Rumah Sakit Pusat Gaza, As-Syifa.

    "Secara teknis, kemajuan pembangunan rumah sakit ini sudah mencapai 60% persen di tahap pertama," ujar Ketua Mer-C untuk Gaza, Abdillah Onim, Kamis, 24 November 2011.

    Meski masih terjadi gejolak akibat konflik blokade Israel-Palestina yang berkepanjangan, pembangunan rumah sakit ini tetap dilanjutkan. Menurut Abdillah, hampir setiap hari kapal tanpa awak Israel terbang rendah di atas RSI.

    Israel terkadang meluncurkan bom dari Jet F16 ataupun dari pesawat drone (pesawat tanpa awak yg bermuatan bom) di dekat lokasi RSI. "Tiap detik dan tiap hari pesawat-pesawat ini berputar di langit Gaza dan sering merenggut nyawa, baik balita maupun orang dewasa," ujar Abdillah.

    RSI diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 17 miliiar dan sepenuhnya dibiayai MER-C atau Bulan Sabit Merah yang berasal dari sumbangan seluruh rakyat Indonesia. Rumah sakit ini berdiri di atas lahan 1,6 hektar yang perizinannya langsung diberikan Perdana Menteri Hamas, Ismael Haniya.

    RSI berkapasitas 100 tempat tidur dan dikhususkan untuk pasien dengan sakit tulang yang membutuhkan rehabilitasi, serta penyembuhan dari trauma. "Rumah sakit ini memang didesain khusus untuk rumah sakit perang," ujar Abdillah.

    CHETA NILAWATY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.