Karbala, Tak Lekang Dimakan Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wartawan Majalah Tempo, Rommy Fibri, kembali ke Irak, 18 Desember 2003. Ini adalah perjalanan keduanya ke "Negeri 1001 Malam" itu. Sesaat sebelum Baghdad jatuh, April lalu, dia juga berada di sana melaporkan detik demi detik keadaan Irak sebelum akhirnya jatuh ke tangan pasukan koalisi Amerika Serikat. Inilah catatan hariannya:_________________________________________________________Mohamad Ali, dosen agama dari Pakistan, menangis tersedu-sedu. Tangannya menengadah, mulutnya menyeruuntaian doa, dan matanya sembab karena air mata. Berkali-kali ia mengaduh, seolah menyesali bencana yang telah menimpanya. Tak lama kemudian, ia pun salat di depan cungkup makam Al Husain di Karbala.Di padang tandus Karbala, sekitar 75 kilometer sebelah selatan Bagdad, terletak makam Al Husain, cucu NabiMuhammad. Tempat ini banyak didatangi para peziarah, khususnya kaum Syiah dari seluruh dunia. Di saatperang kemarin, banyak orang mengecam tentara Amerika, karena pesawat tempurnya terbang terlalu rendah.Mereka takut, getaran atau bahkan misil akan mengenai salah satu bagian dari bangunan makam tersebut.Untunglah, tidak terjadi kerusakan pada bangunan suci tersebut, meski 7 kilometer dari lokasi, masihterlihat onggokan tank Irak yang porak-poranda dihajar misil. Sejatinya, ada dua bangunan suci yang ada di Karbala. Selain bangunan makam Al Husain, satunya lagi adalahbangunan makam Al Abas, saudara Husain yang ikut berperang. Bedanya, dalam satu bangunan menara denganAl Husain, ada makam Al Hurr dan seorang bayi. Al Hurr dikenal sebagai panglima perang Husain yang tangguh,dan tetap mengepalkan bendera perang hingga terbunuh oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Adapun sang bayi, iaterkena panah saat berada di pangkuan Husain. Saat perang lalu, hampir seluruh penduduk di sekitar pergi mengungsi. Seperti halnya, Abu Qusayn Adnan,manajer Hotel Darus Sultan, yang berada tak jauh dari makam Husain, terpaksa mengungsi ke Kut (sebelah timurBagdad). Ia tak mau ambil risiko terkena bom nyasar atau bahkan tertembak tank. "Yang penting, kami harusselamat," katanya. Kini Karbala sudah berdenyut kembali. Hampir setiap hari, ratusan peziarah berdoa dan menyambangi tempatsuci ini. Seperti halnya yang disaksikan TEMPO, Minggu pagi waktu Irak, mereka berdoa dan menangistersedu-sedu. Ada yang datang dari Iran, Pakistan, Lebanon, dan dari lokal Irak. Syaikh Hamid Ridha, mursyid asal Iran, mengaku sudah puluhan kali mengunjungi Karbala. "Saya selalu mengajak murid saat ziarah ke Karbala," katanya. Berbeda dengan Ridha, Mohamad Ali ziarah dengan mengajak istri dan seorang anaknya. "Ini pertamakalinya kami kemari," ujarnya. Sejak kuliah di Qom, Iran, ia sudah berketetapan hati hendak ke Karbala.Rencananya ia menginap lima hari di Karbala, kemudian melanjutkan ziarahnya ke Najaf, makam Ali bin AbiThalib. Layaknya pergi haji, bagi sebagian penganut Syiah, belum afdhol rasanya jika tak sempat ke Karbala dan Najaf. Karbala layaknya kota satelit yang bahkan jauh lebih ramai dari distrik terdekatnya, Iskandariyah. Pedagangasongan, yang menjajakan turbah (tempat sujud dari tanah, red), kaset, sajadah, dan gambar-gambar AlHusain memenuhi jalan masuk menuju bangunan makam. Meski di sekeliling makam sudah berdiri puluhan hotel,tetap saja tak mampu menampung para peziarah. "Kendala paling besar adalah penuhnya penginapan," kata HamidRidha. Tak jarang, rombongannya mesti berhimpit-himpitan dalam satu kamar ketika tidur di malam hari. Sejumlah bangunan pun tampak sedang direnovasi. Menilik modelnya, sepertinya rumah-rumah di sekelilingakan dipermak menjadi hotel. "Itu lebih bagus, sehingga para peziarah tidak terlantar," kata MohamadAli. Bisnis hotel memang cukup menggiurkan, karena harga sewa kamar permalamnya mencapai USD 25 (setaraRp 200 ribu). Memang, Karbala bak prasasti nan tak lekang dimakan perang. Dalam situasi sulit sekalipun, masih bisamenghidupi penduduk sekitar. Banyak orang bisa mengambil keuntungan dari keluarga Nabi, meski tidaksedikit pula yang tak tahu diri dan tidak merasa bahwa hanya sedikit yang telah ia berikan. @

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.