Peneliti AS: Ribuan Teroris Sudah Masuk Asia Tenggara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Sydney:Sebuah penelitian menyebutkan tak kurang dari 3.000 orang anggota kelompok Islam garis keras telah dilatih menjadi teroris di Afganistan dan Filipina sejak 1970. Menurut salah seorang penelitinya, Zachary Abuza, banyak dari jumlah itu kini telah kembali ke negaranya masing-masing. Ia menyebut saat ini sekitar 1.000 orang masih menjalani latihan perang di Afganistan. Abuza merupakan peneliti asal Universitas Simmon Boston, Amerika Serikat, yang dipercaya oleh Polisi Federal Australia untuk menyelidiki jaringan Al-Qaidah di Asia Tenggara. Dalam penelitian yang diberi judul "Gurita Teror Jaringan Al-Qaidah di Asia Tenggara", Abuza menyebutkan kebanyakan dari alumni "pelatihan teroris" itu memegang teguh semangat jihad di negaranya masing-masing seperti Malaysia, Indonesia, dan Singapura. "Mereka kembali ke negara mereka dengan satu tekad mengobarkan jihad, lalu mengajak pengikutnya untuk mendirikan negara Islam dengan dasar hukum syariah," kata Abuza di Sydney, Rabu (27/11). Laporan itu, seperti dikutip oleh The Australian dan radio ABC, menyebutkan pada sembilan tahun lalu terbentuk suatu ikatan yang kuat antara Jamaah Islamiyah dengan Usamah bin Ladin. Abuza percaya Bin Ladin sudah melihat Asia Tenggara sebagai wilayah yang potensial untuk merekrut anggota-anggota untuk membakar semangat revolusi Islam. Alasannya, kata Abuza, tiga negara itu lemah pemerintahannya, penjagaan perbatasan yang camping, kehilangan identitas, dan korupsi di lembaga birokrasi yang merajalela. Sifat-sifat negara seperti itu, tulis Abuza, paling memungkinkan tumbuh suburnya jaringan teroris. Untuk Indonesia, Abuza memberi catatan khusus. Di negara ini, tulisnya, sangat mungkin lahir para teroris-teroris baru yang disusupkan oleh Al-Qaidah. Katanya, "Al-Qaidah akan memanfaatkan situasi politik yang tidak stabil." Abuza memberi contoh. Pada Juni 2000, dua orang tangan kanan Bin Ladin diberangkatkan ke Indonesia dan tiba di Aceh dan Maluku. Keduanya, Ayman Al Zawahiri lalu disusul Mohammed Atef yang meninggal dalam serangan bom ke markas tentara Amerika di Afganistan Oktober 2001. Menurut laporan intelijen, keduanya disusupkan ke Indonesia dengan tujuan untuk menebarkan jaringan teroris ke seluruh negara di Asia Tenggara. Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer tak berkomentar dengan hasil penelitian yang tak disebutkan kapan waktu pelaksanaannya itu. Melalui juru bicaranya, Downer menyatakan setuju dengan isi laporan itu. Abuza yakin Jamaah Islamiyah kini mempunyai jaringan anggota lebih dari 500 orang. Banyak anggota Jamaah yang telah mendapat materi perang dari Front Liga Islam Moro di Filipina. Untuk itu, dalam laporan itu, Abuza merekomendasikan agar tentara Australia dan Indonesia bekerja sama memerangi terorisme. "Ini sangat penting," katanya. (Bagja/The Australian/AFP)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.