Meski Tegang, Perayaan Natal di Asia Berlangsung Damai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Umat Kristiani di kawasan Asia Pasifik merayakan Natal dengan damai, Rabu (25/12) ini, meski masih dibayangi trauma akibat teror bom dua tahun lalu. Di negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, Paskistan, dan Bangladesh, aparat keamanan menyediakan pengamanan khusus untuk gereja-gereja. Dua tahun lalu, serangkaian pemboman pada malam Natal mengguncang lusinan gereja di beberapa kawasan di Indonesia, dan menewaskan 19 orang. Jaringan radikal Jamaah Islamiyah, yang diduga kuat berhubungan dengan Al-Qaidah, dituduh berada di belakang aksi pemboman itu. Jaringan ini pula yang disangka memainkan peran penting dalam pemboman 12 Oktober di Bali, yang menewaskan 190 orang. Pernyataan bersama dari Persatuan Gereja Indonesia dan Konferensi Wali Gereja Indonesia menyuarakan harapan akan redanya kekerasan dan masalah yang dihadapi Indonesia, beberapa tahun terakhir ini. “Kita memasuki Natal 2002 dengan perasaan perih dan terluka, namun juga dengan harapan akan pemulihan keadaan yang lebih baik,” demikian pernyataan yang dibacakan pada malam Natal di seluruh gereja di Indonesia. Tahun ini, 300 ribu polisi dan tentara diturunkan untuk menjaga Jakarta dan semua gerejanya selama perayaan Natal. “Saya sama sekali tidak mempermasalahkan penjagaan yang ketat ini. Ini harga yang harus dibayar untuk bisa beribadah dengan khusuk dan aman,” kata Suryani, pegawai sebuah firma hukum yang menghadiri misa di Gereja Katedral, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta. Selama ini, umat Kristen juga selalu menjadi target serangan di Pakistan sejak negara Islam itu menjalin koalisi dengan Amerika Serikat, menjelang serangan ke Afghanistan. Polisi di Islamabad mengaku mereka berhasil menangkal sebuah serangan terencana ke gereja, setelah menemukan sebuah tas penuh granat dan amunisi dekat gereja St. Thomas di ibu kota Pakistan. Selain insiden itu, perayaan Natal di Pakistan berlangsung aman dan damai. Sementara itu, di sebuah gereja dekat Calcutta, India, tujuh orang termasuk seorang pastur terluka ketika kurang lebih 20 perampok bersenjata melempar bom sebelum menyerbu misa malam di gereja itu dan membawa lari sejumlah uang dan benda berharga lainnya. Kurang lebih 250 orang, Muslim dan Kristiani, berdoa bersama dalam sebuah gereja katolik di Srinagar, ibu kota sementara Kashmir, di mana perjuangan separatis di kawasan pegunungan Himalaya itu sudah berlangsung lebih dari 13 tahun. “Saya berdoa untuk kembalinya kedamaian di lembah kami yang indah,” kata Vikram Koul, seorang warga Kashmir beragama Kristen, setelah misa bersama itu. “Ada lebih banyak muslim daripada umat kristen dalam gereja tadi,” katanya. “Mereka semua datang untuk memberi ucapan selamat Natal dan bergabung bersama kami dalam doa bersama,” ujar Vikram lagi. Umat Kristen di India kurang lebih hanya dua persen dari seluruh populasi negara mayoritas Hindu itu. Di Afghanistan, jenazah tujuh orang pasukan penjaga perdamaian yang tewas dalam kecelakaan helikopter awal pekan ini, Rabu tadi diterbangkan ke Kabul dalam sebuah perayaan Natal yang khidmat, sebelum dipulangkan kembali ke Jerman. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, dalam sambutan Natalnya, menekankan perlunya menjaga semangat kemanusiaan, tanpa membedakan ras, agama, dan keyakinan politik dan tetap berusaha hidup bersama dalam harmoni. Sementara itu, Natal di negara mayoritas Kristen satu-satunya di Asia Tenggara, Filipina, diwarnai dengan kontak senjata antara militer setempat dengan gerilyawan separatis Abu Sayyaf. Satu tentara dan satu pemberontak tewas dalam insiden itu. Pemerintahan Presiden Gloria Arroyo mendeklarasikan sebuah gencatan senjata unilateral sejak 24-25 Desember dalam kampanyenya melawan para pemberontak komunis itu. Meski gerilyawan menolak perjanjian itu, tidak dilaporkan ada kontak senjata lain Rabu ini. Di Vietnam, dimana umat Kristen adalah 10 persen dari total populasi negara itu, Katedral Notre Dame di Hanoi, penuh sesak oleh peserta misa. Namun, tidak ada perayaan berlebihan di jalanan luar katedral itu. Dalam usahanya mengelak tudingan Amerika Serikat yang menuding pemerintah Vietnam mengekang kehidupan beragama, sebuah delegasi Partai Komunis yang berkuasa mengunjungi Kardinal Vietnam Pham Dinh Tung dan wakil gereja Protestan, sebelum perayaan Natal, Selasa kemarin. Di Korea Selatan, sekitar 1,000 orang menandai malam Natal dengan demo anti-Amerika. Massa membawa lilin dan berarak di jalan-jalan, sebagai bagian dari rangkaian protes atas tindakan brutal dua tentara Amerika yang sedang mabuk, yang lalu menewaskan dua gadis sekolah dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Pembangkang ternama Cina, Xu Wenli, yang tiba di Amerika Serikat, Selasa kemarin, setelah dibebaskan dari penjara dengan alasan medis, mengatakan, pembuangannya dari Cina adalah hadiah Natal dari Presiden Cina Jiang Zemin untuk Presiden Amerika George W. Bush. Wenli sendiri sudah dipenjara sejak 16 tahun lalu. “Saya sudah biasa dengan permainan politik semacam ini. Caranya memang selalu seperti ini,” kata Wenli setibanya di New York. (AFP/Wahyu Dhyatmika)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.