FBI Selidiki Kemungkinan Saudi Arabia Terlibat Aksi Teroris 11 September

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Biro Penyidik Federal AS (FBI) sedang menyelidiki kemungkinan terlibatnya pemerintah Saudi Arabia dalam mendanai serangan teroris 11 September 2001. Kemungkinan ini diselidiki setelah ditemukannya bukti adanya arus dana dari pejabat tinggi negeri itu kepada dua dari 15 pembajak yang meluluhlantakkan menara kembar World Trade Center dan Pentagon itu. Demikian dijelaskan oleh seorang pejabat senior Gedung Putih, Sabtu (23/11), waktu setempat. Bukti-bukti yang ditemukan, menurut pejabat itu, mengindikasikan adanya arus dana kepada Khalid al-Mihdhar dan Nawaf al-Hazmi, yang membajak pesawat American Airlines bernomor penerbangan 77 yang jatuh di Pentagon, dari seorang anggota Kerajaan Saudi, Putri Haifa Al-Faisal, putri dari Raja Faisal, yang menikah dengan Dubes Saudi untuk AS, Pangeran Bandar bin Sultan. Sementara itu, sebuah investigasi yang dilakukan mingguan Newsweek, menyebutkan jumlah dana itu mencapai US$ 3,500 yang dikirim per bulan, mengalir dari rekening sang putri di Riggs Bank, Washington. Uang itu dikirimkan kepada Umar Al-Bayoumi, seorang warga negara Saudi yang sedang belajar di San Diego, California, sejak awal 2000. Dia diduga berteman dengan Al-Mihdhar dan Al-Hazmi. Setelah Al-Bayoumi meninggalkan AS pada pertengahan 2001, pembayaran diteruskan Usamah Bassnan, teman lainnya dari Al-Bayoumi dan pembajak itu. Menurut Michael Isikoff, penulis artikel itu di Newsweek, Al-Bayoumi dan Bassnan sempat membantu para pembajak memperoleh apartemen, membayari sewanya, dan memperkenalkan mereka dengan komunitas Islam di San Diego. "Tidak ada penjelasan mengapa seorang pejabat tinggi, atau istri seorang pejabat tinggi, memberikan uang kepada seorang yang kelihatannya tidak ada apa-apanya di San Diego," kata Isikoff kepada kantor berita CNN dalam acara "NewsNight". Menyusul pemberitaan ini, Adel al-Jubeir, penasihat luar negeri Putra Mahkota Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz, secara tegas membantah keterkaitan antara pemerintahnya dengan pembajak. "Tidak ada bukti keterkaitan itu," katanya kepada CNN dalam sebuah wawancara dari Riyadh. Al-Jubeir menyayangkan mengapa sebuah investigasi yang sedang berlangsung bisa dipublikasikan sehingga menimbulkan kesimpulan seolah-olah pemerintah Kerajaan Saudi bekerja sama dengan teroris untuk menghantam AS. Padahal menurutnya Saudi adalah negara yang berada di samping AS dalam hal tidak mengampuni anggota Al-Qaidah dan teroris lain. "Tidak mengherankan bahwa presiden dan menteri luar negeri dan semua pejabat senior Anda secara konsisten, dan on the record, telah menyatakan bahwa Saudi yang paling bekerja sama atas hal ini," kata dia. Karena itu, tambahnya, tuduhan itu sama saja dengan mengatakan negerinya membiayai orang yang akan membunuh mereka. Menurut Al-Jubeir, tidak ada pembayaran langsung yang pernah terjadi oleh Putri Haifa kepada baik Al-Bayoumi atau Bassnan. Investigasi internal yang dilakukan pihaknya menemukan bahwa putri itu secara teratur mengirimkan bantuan amal kepada seorang wanita bernama Magda Ibrahim Ahmed. Sementara sang wanita kemudian menyalurkan sedikitnya lebih dari setengah uang itu kepada baik Usama Bassnan atau Umar al-Bayoumi. FBI, kata dia, sempat ikut membantu penyelidikan lebih lanjut mengenai hal itu, enam bulan yang lalu. Akan tetapi pihaknya, menurut Al-Juberi, belum mengetahui siapa sesungguhnya Magda Ibrahim, dan mengapa dia ada dalam daftar penerima sumbangan Putri Haifa. Sementara Putri Haifa sendiri digambarkannya lebih sebagai wanita dermawan yang sangat perhatian terhadap kesejahteraan warga negara Saudi di luar negeri. (CNN/AFP/Deddy Sinaga)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fakta-fakta Pelantikan Jokowi - Ma'ruf, Dihadiri Prabowo - Sandi

    Selain beberapa wakil dari berbagai negara, pelantikan Jokowi - Ma'ruf ini dihadiri oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.