Eksklusif TEMPO dari Libya: Tripoli Berpesta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Zohra Bensemra

    REUTERS/Zohra Bensemra

    TEMPO Interaktif, Jarum jam menunjuk angka 8 tepat. Malam sudah mulai menyelimuti ibu kota Tripoli, Libya. Namun, jalan-jalan di sana, Kamis, 8 September 2011, malah makin macet. Mobil-mobil pribadi semuanya mengarah ke Midan Syuhada yang berada di jantung kota.

    Klakson kendaraan bersahutan. Semua warga Tripoli, termasuk anak-anak dan gadis-gadis remaja, bergembira menyambut kemenangan revolusi yang bertiup sejak 17 Februari lalu. Teriakan takbir bergema, berlomba-lomba dengan lagu Ya Baladi (Wahai Negaraku) yang melengking dari pengeras suara banyak mobil. Lagu ini begitu populer, diputar saban hari, dan besar kemungkinan semua rakyat Libya hapal.

    Midan Syuhada tadinya bernama Lapangan Hijau saat pemimpin Libya Muammar Qadhafi masih berkuasa. Di sanalah, saban Maret dan April, lelaki yang duduk di puncak kekuasaan selama 42 tahun itu berpidato. Ia bisa datang kapan saja tanpa ada pemberitahuan.

    Sekarang semua berubah. Giliran rakyat Libya yang datang ke sana saban malam. Mereka datang dengan atribut seragam: bendera tiga warna (merah, hitam, dan hijau dengan bulan sabit dan bintang di bagian tengah). Bendera semacam ini yang tidak berlaku di zaman Qadhafi kini bisa ditemukan di mana saja, termasuk di pipi seorang gadis cantik berkulit putih bersih.

    Namanya Manal. Ia tinggal di kawasan Pasar Zuma yang dikenal sebagai basis anti-Qadhafi sejak lama. “Saya senang kami sudah bebas dari Qadhafi. Saat ia masih berkuasa, kaum perempuan yang cantik-cantik takut keluar rumah,” ujar perempuan lajang yang dibalut abaya serta jilbab serba hitam ini. Mereka bisa menjadi incaran penculikan untuk menjadi pemuas nafsu syahwat Qadhafi dan ke-7 putranya.

    Meski Tripoli sudah dikuasai kaum pemberontak, penjagaan masih ketat di seantero kota. Sejumlah lokasi strategis dipasang blokade jalan dari beton. Pos-pos pemeriksaan berdiri di hampir berbagai persimpangan. Seperti di depan kediaman Aisyah Qadhafi yang jaraknya hanya 1 kilometer dari tempat tinggal Mu'tasim.

    Ada 4 orang yang berjaga secara bergiliran, termasuk Abdallah, 18 tahun, dan Ayub Husain, 23 tahun. Mereka bersenjatakan senapan AK-47 buatan Uni Soviet. Abdallah baru lulus SMA, sedangkan Ayub semester IX Fakultas Ekonomi di Universitas Tripoli, sebelumnya bernama Universitas Al-Fatah. Nama ini merujuk pada kemenangan Qadhafi saat menggulingkan Raja Idris pada 1969.

    Ayub tampak asyik melahap makan siang berupa nasi kotak di sebuah masjid, di samping rumah Aisyah Qadhafi. Semua perbekalan makanan dan minuman pemberian cuma-cuma dari warga sekitar. "Tripoli tanpa Qadhafi miah-miah," ujarnya sambil mengangkat kedua jempol tangannya.

    Banyaknya pos pemeriksaan ini lantaran Qadhafi bersama anak-anak dan pengikutnya belum menyerah. Mereka kini bertahan di Sirte (kota kelahiran Qadhafi) dan Bani Walid, sekitar 2 jam perjalanan dengan mobil dari Tripoli. Pemimpin Dewan Transisi Nasional Mustafa Abdul Jalil sudah menetapkan tenggat hingga Sabtu pekan ini untuk menyerah. Jika tidak, pemberontak bakal menyerbu dua kota itu.

    Menurut Saleh, 32 tahun, banyak warga sipil memiliki senjata yang mereka dapatkan cuma-cuma. Ia mengaku memiliki 2 AK-47, pemberian dari pemberontak Misrata saat menyerbu Tripoli. “Mereka hanya membagikan kepada warga kawasan Pasar Zuma, sedangkan warga Tripoli lainnya mendapatkan dari Bab al-Aziziyah,” ujar lelaki kelahiran Misrata ini.

    Seorang warga Tripoli yang tinggal di belakang Hotel Mahari mengungkapkan cerita menarik. Di antara para penembak jitu Qadhafi yang terbunuh, terdapat 3 orang Indonesia. “Mereka tadinya bekerja, lantas dibayar oleh Qadhafi untuk melawan rakyat Libya.” Pernyataan ini belum bisa dikonfirmasi.

    Karena itu, jangan heran jika suara rentetan senjata kerap terdengar tiap hari, siang atau malam, termasuk saat laporan ini dibuat. Rentetan panjang terdengar jelas. Namun, menurut Saleh, itu merupakan luapan kegembiraan, bukan pertempuran.

    Qadhafi lari dari Tripoli saja, kegembiraan sudah begitu meluap. Jadi, bisa dibayangkan seperti apa suka-cita warga Tripoli bila pria 69 tahun itu tertangkap atau terbunuh.

    FAISAL ASSEGAF (TRIPOLI)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.