Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Anwar Ibrahim: Saya Yakin Perubahan Akan Terjadi di Malaysia  

image-gnews
Anwar Ibrahim. TEMPO/Imam Sukamto
Anwar Ibrahim. TEMPO/Imam Sukamto
Iklan

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Ketua oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, adalah salah satu korban cedera dalam aksi unjuk rasa, Sabtu, 9 Juli 2011 kemarin, yang digerakkan Koalisi untuk Pemilu Bersih dan Adil (Bersih 2.0), gabungan LSM, dan partai oposisi Malaysia.

Meskipun begitu, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia yang kini masih dirawat di Pantai Medical Centre ini bersedia menerima wartawan Tempo untuk sebuah wawancara. Berikut ini petikan wawancara koresponden Tempo di Malaysia, Masrur, dengan Anwar Ibrahim di Kuala Lumpur, Ahad 10 Juli 2011.

T: Bagaimana Kondisi Datuk Seri Anwar Ibrahim saat ini?

J: Alhamdulillah sudah lumayan baik, walaupun dokter masih meminta saya dirawat di rumah sakit dan menggunakan penyangga leher.

T: Bagaimana situasi kemarin sehingga Datuk Anwar terluka?

J: Saat saya bersama ribuan demonstran, polisi anti huru-hara langsung menembakkan gas air mata ke arah saya. Biasanya, tembakan gas air mata ke atas, namun ini langsung ditujukan ke arah saya. Salah satu pengawal yang coba menyelamatkan saya dari tembakan tersebut terluka parah saat ini.

Dalam kondisi panik karena gas air mata, saya terjatuh dan terinjak. Malangnya, saat jatuh, posisi kepala saya langsung terbentur ke jalan. Selain itu, kaki saya terluka karena terinjak.

T: Sebenarnya apa tuntutan Koalisi Bersih 2.0?

J: Kami hanya meminta pemilihan raya yang lebih adil dan transparan, itu saja. Kalau Anda lihat pemilihan raya di Malaysia masih banyak kebohongan. Di antaranya, pemilih yang tidak jelas datanya, warga Malaysia di luar negeri tidak bisa memilih, hingga keberpihakan media yang begitu kuat kepada pihak berkuasa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

T: Ada empat negara bagian yang dimenangkan partai oposisi dalam pemilu lalu. Apakah itu tidak menunjukkan bahwa pemilu sudah berjalan dengan bersih?

J: Anda macam tak tahu zaman orde baru (di Indonesia) dulu. Waktu itu bukan 100 persen partai Soeharto pemenangnya. Ada juga partai oposisi menang. Begitu juga di Malaysia. Andaikan pemilihan raya tahun 2008 berjalan dengan bersih, mungkin sekarang UMNO menjadi oposisi.

T: Setelah aksi unjuk rasa kemarin dibubarkan paksa oleh polisi, apakah gerakan ini masih akan dilanjutkan?

J: Tuntutan Koalisi Bersih 2.0 akan tetap kami lanjutkan, walaupun mungkin bukan dengan jalur unjuk rasa. Selanjutnya, kami ingin memperjuangkan tuntutan ini lewat jalur diskusi dan perundingan.

T: Apakah tujuan unjuk rasa kemarin sudah tercapai?

J: Kami ingin menggugah rakyat Malaysia untuk memperjuangkan haknya dalam berdemokrasi. Dan apa yang kita saksikan kemarin bagaimana rakyat Malaysia dari semua eknik, baik itu Melayu, Cina, India, maupun pribumi berani turun ke jalan walaupun dihalangi oleh pihak berkuasa. Saya lihat ini satu hal yang baik dan permulaan yang penting ke arah demokrasi. Dan saya yakin perubahan itu akan segera terjadi.

MASRUR

Iklan

Berita Selanjutnya



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


6 Tuntutan Aksi Mahasiswa Mei 1998, Reformasi Sudah Selesai?

12 Mei 2023

Ribuan mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR saat unjuk rasa menuntut Soeharto mundur sebagai Presiden RI, Jakarta, Mei 1998. Selain menuntut diturunkannya Soeharto dari Presiden, Mahasiswa juga menuntut turunkan harga sembako, dan cabut dwifungsi ABRI. TEMPO/Rully Kesuma
6 Tuntutan Aksi Mahasiswa Mei 1998, Reformasi Sudah Selesai?

Para mahasiswa pada aksi unjuk rasa Mei 1998 menyuarakan 6 tuntutan dalam reformasi. Apakah hari ini sudah selesai?


Kesepakatan dengan IMF Alot, Presiden Kais Saied Sebut Tunisia Bukan untuk Dijual

8 April 2023

Kais Saied, Presiden Tunisia. Sumber : Reuters
Kesepakatan dengan IMF Alot, Presiden Kais Saied Sebut Tunisia Bukan untuk Dijual

Presiden Saied menolak pemaksaan lebih jauh dari IMF karena bisa mengarah pada kemiskinan yang lebih lanjut di Tunisia.


Peru Terperosok ke Krisis Politik, Unjuk Rasa Berubah Jadi Kerusuhan

14 Desember 2022

Polisi menghadapi pengunjuk rasa yang memprotes untuk menuntut pembubaran Kongres dan mengadakan pemilihan demokratis daripada mengakui Dina Boluarte sebagai Presiden Peru, setelah penggulingan Presiden Peru Pedro Castillo, di Lima, Peru, 12 Desember 2022. REUTERS/Sebastian Castaneda
Peru Terperosok ke Krisis Politik, Unjuk Rasa Berubah Jadi Kerusuhan

Setidaknya tujuh orang tewas dalam unjuk rasa di Peru akhir pekan lalu saat aksi protes berubah menjadi kerusuhan.


Krisis Politik di Myanmar Jadi Sorotan di Pertemuan AMM

5 Agustus 2021

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi  saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken di Departemen Luar Negeri di Washington, AS, Selasa, 3 Agustus 2021. Pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia. Jose Luis Magana/Pool via REUTERS
Krisis Politik di Myanmar Jadi Sorotan di Pertemuan AMM

Menteri Luar Negeri RI secara terbuka menyebut isu Myanmar menjadi masalah yang paling banyak di bahas di pertemuan AMM


Netanyahu Perkenalkan Kabinet Baru ke Parlemen Israel

18 Mei 2020

Benny Gantz dan Benjamin Netanyahu.[Times of Israel]
Netanyahu Perkenalkan Kabinet Baru ke Parlemen Israel

PM Netanyahu dan rival politik Benny Gantz membentuk koalisi pemerintahan baru bersatu untuk mengakhiri konflik politik berkepanjangan.


Krisis Turki, Bagaimana Dampaknya Terhadap Pasar Modal Indonesia?

13 Agustus 2018

Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Turki. Gmfus.org
Krisis Turki, Bagaimana Dampaknya Terhadap Pasar Modal Indonesia?

Risiko sistemik dikhawatirkan akan mengakibatkan krisis Turki mempengaruhi IHSG.


Perludem Sebut Anak Muda Masih Jadi Penonton Politik

25 Maret 2018

Ilustrasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) bertema unik. TEMPO/Gunawan Wicaksono
Perludem Sebut Anak Muda Masih Jadi Penonton Politik

Perludem pun menilai sistem politik yang ada di Indonesia tak ramah bagi anak muda sehingga mereka sulit terjun di dunia politik.


Jokowi: 6 Bulan Terakhir Kita Buang-buang Energi Tidak Berguna

23 Mei 2017

Presiden Jokowi menyaksikan Latihan Gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) 2017 di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, 19 Mei 2017. Puspen TNI
Jokowi: 6 Bulan Terakhir Kita Buang-buang Energi Tidak Berguna

Presiden Jokowi mengatakan, 6-8 bulan ini, energi dihabiskan untuk banyak hal tidak berguna, saling hujat, berdebat, dan membuat suhu politik memanas.


SBY: Jika Hanya Pentingkan Stabilitas Politik, Hati-hati  

8 Februari 2017

Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY memberi salam seusai menyampaikan pidato politik pada Rapimnas dan Dies Natalies Partai Demokrat ke-15 di JCC, Jakarta, 7 Februari 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto
SBY: Jika Hanya Pentingkan Stabilitas Politik, Hati-hati  

SBY mengatakan pemerintah harus berhati-hati jika negara hanya menekankan aspek stabilitas politik.


Analis Politik: Situasi Memanas, Jokowi Harus Lakukan Ini  

2 Februari 2017

Presiden Jokowi memakai headset sambil mendengarkan pernyataan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam pertemuan ASEAN Plus Jepang di Vientiane, Laos, 7 September 2016. AP/Bullit Marquez
Analis Politik: Situasi Memanas, Jokowi Harus Lakukan Ini  

Pertarungan Joko Widodo adalah kepada siapa saja yang berdiri di seberang kepentingan negara dan bangsa.