"Revolusi Tunisia untuk Kebebasan dan Demokrasi"

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mohamed Nejib. Foto: www.uh.edu

    Mohamed Nejib. Foto: www.uh.edu

    TEMPO Interaktif, Jakarta -

     Mohamed Nejib Hachana, Direktur Jenderal Ekonomi Politik dan Kerja Sama dengan Negara-negara Arab dan Islam, Kementerian Luar Negeri Tunisia.

    Revolusi di Tunisia yang menumbangkan rezim Presiden Zine al Abidine Ben Ali pada 14 Januari lalu, berhasil memercikkan gelombang revolusi di kawasan Mediterania dan negara-negara Arab yang masih berlangsung hingga saat ini.

    Untuk mengetahui apa sebenarnya pemicu revolusi di negara yang terletak di Afrika Utara itu, wartawan Tempo, Sunariah, mewawancarai Mohamed Nejib Hachana, Direktur Jenderal Ekonomi Politik dan Kerja Sama dengan Negara-negara Arab dan Islam, Kementerian Luar Negeri Tunisia, Senin lalu.

    Mantan duta besar Tunisia untuk Amerika Serikat ini yang datang ke Indonesia atas undangan Kementerian Luar Negeri RI ini ditemui di sela-sela acara dialog bertajuk "Pertemuan Kelompok Ahli: Perubahan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Pengaruh dan Interdependensinya dalam Tatanan Global". Acara ini berlangsung di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta.

    Apa sebenarnya penyebab revolusi di Tunisia?
    Revolusi di Tunisia bukan disebabkan alasan ekonomi dan sosial, tapi menurut saya, pertama karena alasan kebebasan dan demokrasi di dalam kehidupan berpolitik di Tunisia. Saya tekankan juga revolusi terjadi karena sudah tiba waktunya untuk memperhatikan kebebasan berdemokrasi dan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Saya kira orang Tunisia juga tertarik dengan dukungan dari negara-negara Asia terhadap revolusi di Tunisia dan juga negara-negara Arab.

    Revolusi secara keseluruhan juga dipicu oleh tren di dunia Arab dan juga mungkin karena kawasan Mediterania yang sekarang sudah bergerak dari arena politik yang represif.

    Apakah benar bekas Presiden Tunisia, Zaid Ben Ali, bersembunyi di Arab Saudi?
    Apa yang saya dengar dia di Arab, tapi saya tidak dapat mengkormasi hal itu.

    Apa komentar Anda tentang revolusi di Libya?
    Itu urusan internal Libya, tapi saya berharap krisis di negara itu segera berakhir.

    Berbeda dengan di negara Arab lainnya, revolusi di Libya melibatkan Amerika Serikat, apa pendapat Anda?
    Tunisia selalu menghormati hukum internasional.

    Apa yang Anda harapkan dari pertemuan para ahli ini untuk stabilisasi di dunia Arab?
    Anda tahu Tunisia adalah negara pertama yang mengalami revolusi di dunia Arab untuk demokrasi dan kebebasan berbicara, dan Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya. Kita ingin bisa berdialog di antara negara-negara Muslim untuk mendukung aspirasi masyarakat Muslim.

    Bagaimana hubungan antara Indonesia dan Tunisia?
    Saya sampaikan kepada Anda, Indonesia dan Tunisia punya hubungan yang sangat kuat dan juga sama-sama negara Muslim.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.