Pemberontak Tak Percaya Anak Qadhafi Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Tripoli - Sejumlah kalangan meragukan kabar kematian putra Momaar Qadhafi, Saif al-Arab. Menurut Dewan Transisi Nasional Libya, Qadhafi sengaja mencari simpati dengan menyampaikan kematian anaknya.

    Demikian pula para pemberontak. Mereka juga tak percaya berita kematian Saif al-Arab.

    Juru bicara pemerintah Libya, Moussa Ibrahim, menyampaikan Saif al-Arab, 29 tahun, tewas dalam serangan NATO pada Sabtu malam. Laman CNN, Minggu, 1 Mei 2011, melaporkan Qadhafi dan istrinya yang sedang berada di lokasi yang sama dilaporkan selamat.

    Untuk menyakinkan kabar itu, Ibrahim mengajak wartawan ke lokasi sisa-sisa penyerangan di sebuah rumah di Tripoli. Ibrahim mengatakan rumah itu diserang dengan tiga misilis. Rumah itu hancur, tetapi tidak jelas bagaimana ada orang yang selamat dari lokasi itu, sedangkan Qadhafi dikatakan ada di tempat itu dan selamat bersama istrinya.

    Klaim bahwa anak Qadhafi tewas akibat serangan bukanlah pertama kalinya. Pada 1986, Qadhafi pernah menyatakan diserang oleh Ronald Reagan, Presiden Amerika Serikat saat itu. Saat itu, ia mengklaim anak perempuan angkatnya, Hanna Qadhafi, tewas dalam serangan. Namun, belakangan diketahui kematian Hanna tidak ada hubungannya dengan serangan tersebut.

    Saat itu, pemerintah Libya juga menyiarkan video yang memperlihatkan dua anak laki-laki Qadhafi, yakni Saif al-Arab, saat itu berusia tiga tahun, dan kakaknya Khamis juga ikut terluka parah. Dalam video itu, wajah keduanya ditutupi perban sehingga tidak terlihat raut mukanya.

    CNN | AL-JAZEERA | AQIDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.