Jepang Waspadai Harakiri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP Photo/Koji Sasahara

    AP Photo/Koji Sasahara

    TEMPO Interaktif, Tokyo - Sudah sebulan lalu, sejak gempa dan tsunami memorak-porandakan sebagian wilayah Jepang, Naoko Sugimoto gundah gulana. "Apa yang bisa kulakukan?" kata perempuan berumur 67 tahun ini. Bukan soal korban tewas atau hilang yang ia pikirkan, melainkan orang-orang yang terpukul jiwanya karena suami, istri, anak, kakak, adik, atau orang tua mereka hilang atau tewas akibat musibah terburuk di Negeri Matahari Terbit itu. "Mereka nekat bunuh diri."

    Itu sebabnya, kemarin Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menerjunkan 25 ribu serdadu Pasukan Bela Diri Jepang guna menyisir wilayah yang terkena gempa dan tsunami. Pemerintah ingin segera menuntaskan masalah korban tewas atau hilang akibat bencana itu. Sebanyak 90 pesawat dan 50 kapal perang ikut dikerahkan. Maklum, seperti mereka yang tertekan mencari sanak saudaranya, Perdana Menteri Kan juga ditekan pihak oposisi.

    "Negara menghadapi krisis di dalam krisis," ujar Kan, yang partainya, Partai Demokratik Jepang (DPJ), kalah dalam pemilihan umum lokal pada Ahad lalu. Pihak oposisi, Partai Demokrat Liberal (LDP), jelas-jelas menginginkan Kan mundur. "Kekalahan kemarin memperlihatkan pemilih ragu apakah ia mampu mengatasi masalah ini," ujar Presiden LDP Sadakazu Tanigaki. Partainya berencana mengajukan mosi tak percaya pada pekan-pekan ini.

    Boleh jadi Tanigaki benar. Sebab, mengutip hasil jajak pendapat media massa di sana, seperti dilansir Reuters, banyak orang yang menginginkan perdana menteri baru. Adapun menurut Sugimoto, yang juga Direktur Izoku Shien, lembaga konseling nasional yang giat menentang aksi bunuh diri, banyak korban bencana yang sudah mulai kehilangan akal. "Buat apa lagi saya hidup?" ujarnya mengutip sejumlah korban bencana yang depresi.

    Menurut Sugitomo, sejak krisis keuangan yang melanda kawasan Asia pada 1997, jumlah orang yang memilih harakiri mencapai 30 ribu jiwa pada tahun lalu. "Saban 15 menit ada satu orang yang bunuh diri," ujarnya. Rata-rata berusia 20-44 tahun untuk laki-laki dan 15-34 untuk perempuan. "Puncaknya pada Maret." Bulan Maret merupakan masa berakhirnya tahun fiskal negeri berpopulasi 127 juta jiwa itu.

    Belum lama ini ia mendengar ada seorang petani yang bunuh diri karena tanaman kubisnya terpapar zat radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, yang salah satu reaktornya terbakar. Juga seorang pekerja di PLTN itu yang stres karena kelelahan. Termasuk seorang ayah yang memilih mati karena tak kunjung menemukan anaknya yang hilang. "Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi," ujar Sugitomo. "Kita mesti bersabar."

    LA TIMES | REUTERS | YOMIURISHIMBUN | ANDREE PRIYANTO




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.