Krisis Nuklir Jepang Mereda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembangkit tenaga nuklir (PLTN) di Fukushima, Jepang. AP/AIR PHOTO SERVICE

    Pembangkit tenaga nuklir (PLTN) di Fukushima, Jepang. AP/AIR PHOTO SERVICE

    TEMPO Interaktif, Tokyo - Goshi Hosono, Penasihat Khusus Perdana Menteri Jepang yang menangani kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, mengatakan kebocoran radiasi besar-besaran sudah mulai berkurang. Kendati demikian, pemerintah tak bisa mengatakan kondisi pembangkit benar-benar stabil.

    Karena itulah, ujar Hosono, yang diwawancara The Wall Street Journal pada Sabtu lalu, pemerintah Tokyo percaya dengan kebijakan evakuasi yang diambilnya setelah mempelajari beberapa pengurangan yang mungkin terjadi di pembangkit. "Tokyo atau Kyoto tidak akan mengambil langkah berbahaya," ujar anggota parlemen dari partai berkuasa Partai Demokratik Jepang itu.

    Kebocoran radiasi menimpa Jepang setelah pembangkit Fukushima meledak pada pertengahan Maret lalu. Kecelakaan terjadi setelah gempa pada kekuatan 9,0 skala Richter, yang kemudian disusul tsunami hebat, menghantam wilayah timur laut Jepang pada 11 Maret lalu. Krisis semakin parah, bahkan mencapai tingkat paling berbahaya karena teknisi gagal menghidupkan sistem pendingin reaktor.

    Situasi ini mendesak pemerintah memperketat kebijakan evakuasi di sekitar pembangkit. Kamis pekan lalu, pemerintah melarang keras penduduk masuk atau tinggal dalam radius 20 kilometer dari pembangkit. Pemerintah juga mengeluarkan pengumuman evakuasi resmi untuk penduduk yang tinggal di 5 kota atau desa-desa sekitar zona yang terancam paparan radiasi jangka panjang, termasuk yang berada dalam radius 30 kilometer.

    Menurut Hosono, pemerintah dan pemilik pembangkit berjuang mengatasi krisis nuklir. Salah satunya dengan menormalkan fungsi pendingin reaktor. Tapi, bagaimana pun, usaha itu tidaklah mudah. Terutama karena tingkat radiasi di dalam reaktor yang rusak.

    "Tujuan kami sangat jelas: mencegah penyebaran lebih banyak radiasi ke atmosfer dan ke laut," kata Hosono. "Untuk mencapai itu, kita harus memulihkan fungsi pendingin. Ini benar-benar sulit secara teknis." Menurut Hosono, petugas sudah mulai menjelaskan penyebab dan penanganan kecelakaan nuklir. "Saat kami menginvestigasi kecelakaan itu, akan jadi jelas di mana masalahnya, termasuk kebijakan aturan nuklir yang dikeluarkan Jepang."

    WALL STREET JOURNAL | ASIAONE | STRAITS TIMES | SUNARIAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.