Warga Indonesia yang Diinterogasi Ditanya Sikapnya Soal Aksi Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Sydney:Pemeriksaan dan penggeledahan terhadap warga muslim asal Indonesia yang yang berada di Australia terus berlangsung. Kamis (31/10) pagi, giliran Nur Hakim, 48 tahun, yang sudah 14 tahun tinggal di Sydney. Saat diperiksa polisi Federal Australia, dia ditanya sikapnya soal perburuan Amerika Serikat terhadap para teroris. Saat dihubungi Tempo News Room melalui telepon, Hakim menceritakan pengalamannya dalam penggrebekan Kamis pagi itu. Sekitar pukul 07.00 waktu setempat, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Menurut dia, ketukan tersebut cukup keras sekalipun bagi masyarakat di sana tergolong sopan. Kemudian, istrinya datang untuk membuka pintu. Sebelumnya ditanya, Siapa? Mereka menjawab, Federal Police. Istrinya bilang, Hang on, karena dia harus memakai jilbab dulu. Isi rumah juga harus dirapikan dulu, seperti kebiasaan kalau menerima tamu. Tapi mereka tidak mau menunggu. Bergegaslah istrinya membukakan pintu. Polisi federal itu lalu masuk dengan pakaian preman, dengan pistol di pinggang. Mereka datang baik-baik. "Tapi, dia sekeluarga disuruh diam, tidak boleh kemana-mana dan melakukan apapun di jam-jam pertama," kata Hakim. Mereka menanyakan siapa saja penghuni rumah ini. Kebetulan anaknya sedang tidur, istrinya disuruh membangunkan. Semua petugas yang datang itu jumlahnya sekitar 12 orang. Hakim diinterogasi selama sekitar satu jam di ruang tamu. Sebagian menggeledah rumahnya. Empat komputer aktif, termasuk komputer anaknya, dibawa. Bahkan, satu komputer yang sudah rusak, juga dibawa. Audiotape dan videotape juga dibawa. Termasuk dokumen-dokumen yang jumlahnya ada 94 kantong plastik ukuran macam-macam. Saat penggeledahan itu, mereka membawa surat perintah dan ditunjukkan kepadanya. Pemeriksaan selesai sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Namun, dia merasa pertanyaan yang mereka ajukan agak aneh. "Mereka tanya bagaimana sikap saya soal Amerika. Juga bagaimana pendapat saya soal tindakan pemerintah Amerika dan Australia untuk menyerang kaum teroris. Mereka juga menyinggung soal hubungan saya dengan Abu Bakar Baasyir dan Jemaah Islamiyah," ujarnya. Dia mengakui pernah ikut mendengarkan ceramah Abu Bakar Ba'asyir. Namun, dia tidak ingat persis kapan kejadiannya. Seingatnya, waktu itu tahun 90-an. Dia juga tidak tahu kedatangan Ba'asyir itu atas undangan siapa. "Tapi selama saya mendengarkan ceramah beliau, tidak pernah ada anjuran untuk melakukan terorisme, atau kekerasan di sini. Dia hanya mengajarkan tauhid," imbuhnya. Hakim mengaku sudah menunjuk kuasa hukum untuk menyelesaikan masalah ini. Dia juga mendengar ada berita bahwa masyarakat Indonesia memberi reaksi keras atas kasus ini. "Kami hanya mohon doa agar kami ikhlas. Kami tidak melakukan apapun. Kami tidak pernah terlibat aksi terorisme apapun. Kami hanya berdakwah. Kami hanya melaksanakan ajaran Islam," ujarnya dengan nada sedih. (Wahyu Dhyatmika-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.