50 Ribu Orang Antiperang Unjuk Rasa di Gedung Putih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Washington:Sekitar 50 ribu pengunjuk rasi antiperang mengepung Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (26/10) waktu setempat, untuk memprotes rencana pemerintahnya menyerang Irak. Para demonstran, seperti dilansir AFP, juga menyebut Presiden Amerika George Bush sebagai penjahat perang. Sebagian besar pengunjuk rasa ini, yang jumlahnya menurut penyelenggara mencapai 100 ribu orang, menabuh genderang dan membawa spanduk bertuliskan, "Jatuhkan Bush, Bukan Bom." Mereka juga menyanyikan slogan-slogan yang mengingatkan orang pada protes besar-besaran antiperang Vietnam 1960-1970 lalu, seperti, "1-2-3-4, Kami Menolak Perang Rasis Mu." Protes serupa juga berlangsung di beberapa kota di Amerika, seperti San Fransisco, dan di negara lain di dunia. Koalisi aksi ini berharap unjuk rasa kali akan menjadi aksi antiperang terbesar setelah era perang Vietnam. Para pembicara termasuk veteran perang sipil pengacara Jesse Jackson, membandingkan aksi kali ini dengan gerakan damai yang dipimpin oleh Martin Luther King Jr. pada 1960 lalu untuk menolak diskriminasi terhadap bangsa kulit hitam Amerika. "Terima kasih atas kesediaan Anda bergabung dalam aksi yang bersejarah ini," teriak Jackson. Menurutnya serangan Amerika terhadap Irak tidak tidak perlu dan tidak adil. "Jika kita melakukan serangan pertama kali maka kita kehilangan seluruh dasar moral kita. Kita harus memiliki aturan yang lebih tinggi dari pada sekedar diplomasi peluru," tambah dia. Sementara itu, mantan Jaksa Agung Amerika Ramsey Clark, yang sekarang menjadi aktifis perdamaian, menuduh pemerintah Amerika telah melakukan kejahatan perang terhadap Irak. "Kita membunuh 1,5 juta rakyat Irak lewat sanksi genoside," kata dia. "Pemerintah kita menghancurkan sistem hukum internasional, kewenangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan juga konstitusi negara," kata dia. Selama ini pemerintah Amerika menuduh Irak mengembangkan senjata kimia dan biologis dengan melanggar aturan PBB untuk seusai perang Teluk 1991. Selain itu pemerintah Amerika juga menuduh Irak berupaya mengembangkan senjata nuklir. Semua tuduhan ini ditolak oleh pemerintah Irak. Aksi demonstrasi besar-besaran kali ini merupakan kelanjutan dari aksi serupa beberapa waktu sebelumnya. Para pengunjuk rasa dalam aksi ini berasal dari beragam latar belakang, seperti veteran perang, para pemimpin agama, aktifis lingkungan, aktifis kiri dan kaum muda. Banyak di antara mereka melambaikan bendera Palestina sambil membawa spanduk memprotes dukungan tak terbatas Amerika terhadap Israel. (Budi Riza-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.