Cina-Jerman Cermati Krisis Nuklir Jepang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa tingkat radiasi terhadap warga di Koriyama, timur laut Jepang. AP/ Mark Baker

    Petugas memeriksa tingkat radiasi terhadap warga di Koriyama, timur laut Jepang. AP/ Mark Baker

    TEMPO Interaktif, Beijing - Cina harus belajar dari krisis pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Jepang dan menjamin sektor pengembangan PLTN aman. Demikian kemarin seorang pejabat top energi Cina, seiring negara itu akan membangun reaktor-reaktor nuklir baru untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

    Kompleks PLTN Fukushima Daiichi, 240 kilometer utara Tokyo, diguncang ledakan pada Sabtu lalu setelah gempa bumi dahsyat sehari sebelumnya, yang mendorong reaktor-reaktornya dimatikan. Ledakan baru terjadi kemarin dan mengirim asap ke udara. Badan keselamatan nuklir Jepang mengatakan belum bisa memastikan apakah ledakan telah menyulut kebocoran radioaktif yang tak terkontrol.

    China National Nuclear Corp (CNNC) dan China Guangdong Nuclear Power Corp (CGNPC), dua operator PLTN terbesar, sudah mengatakan seluruh PLTN mereka tidak terpengaruh gempa dan tsunami di Jepang.

    Namun, menurut Liu Tienan, Kepala Badan Energi Nasional Cina, dalam laporan kemarin di situs National Development and Reform Commission, menyebutkan para pihak yang relevan di Cina harus hati-hati menganalisis apa yang terjadi di Jepang. Cina punya tiga tahap strategi nuklir: pertama pengembangan reaktor termal, lalu reaktor cepat, dan akhirnya reaktor-reaktor fusi. Tapi tak ada kerangka waktunya.

    Sabtu lalu, Zhang Lijun, Wakil Menteri Lingkungan Cina, mengatakan Beijing bakal tak mengubah rencananya soal listrik nuklir meskipun sejumlah pelajaran dari Jepang bakal jadi pertimbangan untuk pembangunan PLTN. Saat ini Cina punya 28 reaktor PLTN atau hampir 40 persen dari total dunia, sebagian bertujuan untuk mengikis ketergantungan atas listrik batu bara yang kotor dan memotong emisi karbon. Saat ini batu bara adalah sumber 80 persen pembangkit listrik negeri itu. 

    Peringatan waspada muncul dari pakar fisika. "Kecelakaan di Jepang bisa menimbulkan sebuah pemikiran besar lagi di Eropa," kata Henrik Paulitz dari International Physicians for the Prevention of Nuclear War, kemarin. "Dan tak hanya sebelum sekarang. Banyak pemerintah belum cukup transparan soal tingkat keselamatan sektor listrik nuklir."

    Dari Berlin, Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle mengatakan bahwa keputusan pemerintah untuk memperpanjang hidup PLTN tua di negeri itu bakal ditunda seiring dengan krisis nuklir di Jepang.

    Westerwelle, yang memimpin Partai Demokrat Bebas, mitra koalisi junior, berbicara demikian saat Kanselir Jerman Angela Merkel menghadapi penolakan atas keputusan pemerintah memperpanjang usia PLTN-PLTN tua. Ketika ditanya apakah keputusan tahun lalu itu ditunda sementara, Westerwelle berkata, "Aku bisa membayangkannya." 

    Sebelumnya, Komisioner Energi Eropa Guenther Oettinger mengatakan bahwa keselamatan pada beberapa PLTN tua di Jerman harus benar-benar diperiksa dan dia menolak untuk menyingkirkan penutupan jika perlu. Menteri Lingkungan Hidup Jerman Norbert Roettgen juga mendesak penilaian risiko baru pada PLTN di Jerman dan menyatakan Partai Demokrat Kristen (CDU) Merkel harus membuka lagi debat soal energi atomik.

    Reuters | The New York Times | AP | Dwi Arjanto






     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.