10 Pendaki Wanita Siap Taklukkan Gunung di Ekuador

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Sepuluh pendaki wanita di atas 40 tahun akan mendaki gunung tertinggi dan gunung berapi di Ekuador, Amerika Latin. Pendakian gunung Cayambe (5.790 m) dan Chimborazo (6300 m) dilakukan pada mulai 16 Januari hingga 1 Februari merupakan ekspedisi ketiga untuk penggalangan dana penderita Lupus di tanah air.

    Di bawah bendera Equatorial Peaks for Lupus (E4L), tim pendaki ini sekaligu menyelesaikan misi '3 Puncak Ekuator', pendakian tiga puncak tertinggi di garis khatulistiwa yang memiliki salju abadi.

    Menurut ketua E4L, Ami Saragih, Cayambe adalah gunung tertinggi ketiga di
    Ekuador, Amerika Latin, dan merupakan gunung beratapkan salju abadi terakhir di
    garis khatulistiwa yang masih menyisakan hamparan padang dan puncak berselimut
    salju.

    Sedangkan Chimborazo dengan lima puncaknya, diakui sebagai gunung berapi
    tertinggi di Ekuador. Gunung ini juga diakui sebagai gunung tertinggi dunia,
    bila jarak puncaknya dihitung dari titik pusat bumi.

    Kesepuluh pendaki wanita itu masing-masing: Ami KMD Saragih (46, psikolog),
    Amalia Yunita (43, wiraswasta),  Veronica (47, pegawai swasta), Diah Bisono (45
    tahun, wiraswasta), Miranda Wiemar (43, akuntan), Tejasari  (42, perencana
    keuangan independen), Dwiastuti Soenardi (53 tahun, pegawai swasta), Heni
    Juhaeni (44,  konsultan peralatan outdoor), Imas Emi Sufraeni (45, ibu rumah
    tangga), dan Myrnie Zachraini Tamin (47,  akuntan). Satu-satunya pria yang akan
    menjadi pendamping pendakian adalah Rakhmat, sebagai pelatih tim.

    Lima pendaki seperti Amalia Yunita, Ami Kadarhutami, Diah Bisono, Miranda Wimar,
    dan Veronica Moeliono ini menggugah para perempuan memiliki jiwa setara,
    bergabung. Di antaranya Tejasari, Heni Juhaeni, Wiwi, Emi dan Myrnie.

    Ini merupakan ekspedisi ketiga yang dilakukan 10 pendaki wanita pendaki untuk
    penggalangan dana ke Yayasan Lupus Indonesia (YLI). Kepedulian tim E4L ini pada
    lingkungan dan sesama didedikasikan untuk meningkatkan pengenalan terhadap
    penyakit Lupus.

    Sasaran penggalangan dana untuk YLI adalah donasi dari para pendaki sendiri,
    perusahaan atau organisasi serta donatur perorangan. Setiap pendaki diharuskan
    mendonasikan US$100.00 (minimum) untuk YLI. Perusahaan atau organisasi yang
    ingin berdonasi, diharuskan memberangkatkan minimal dua orang pendaki. Donasi
    perorangan akan langsung diserahkan untuk YLI.

    Equatorial Peaks for Lupus merupakan inisiatif sekelompok perempuan Indonesia
    yang prihatin terhadap perkembangan penyakit Lupus di Indonesia, dengan
    melakukan misi kemanusiaan untuk memasyarakatkan mengenai bahaya penyakit ini.
    Ekspedisi pertama pada 2006 silam ke Kala Pattar, Nepal dan gunung Kilimanjaro,
    Tanzania Afrika tahun 2009 yang juga merupakan rangkaian dari “Misi 3 Puncak
    Ekuator”. Saat itu berhasil dikumpulkan dalam setahun (setelah pendakian Rp 100
    juta). Para pendaki, donasi perorangan, sponsor, dan donasi korporasi, diraih
    melalui siar pendakian itu.

    Dalam suatu survei terindikasi bahwa 9 dari 10 orang dengan Lupus (Odapus)
    adalah wanita dan terdeteksi  lebih banyak menyerang pada masa produktif (usia
    15-44). Jumlah penderitanya (tahun lalu diperkirakan 9000 orang) diyakini lebih
    besar dari yang berhasil terdeteksi, sementara pemahaman mengenai penyakit ini
    masih sangat minim.

    "Ekspedisi E4L tahun ini didukung diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi wanita
    lain untuk dekat dengan lingkungan dan tetap beraktifitas atau berolahraga.
    Tanpa perlu khawatir usia,” ujar Ami Saragih.

    Synergy WorldWide Indonesia memberikan dukungan kepada tim pendakian dalam
    bentuk produk makanan kesehatan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan
    stamina. Salah  satunya,  ProArgi-9 plus dan Mistica.

    Produk ini pernah mendukung Jordan Romero kelahiran 1996, menjadi pendaki
    termuda berhasil menaklukkan enam puncak tertinggi dunia (Gunung. Kilimanjaro,
    Tanzania, Afrika, Juli 2006; Gunung. Kosciuszko, Australia, April 2007; Gunung
    Elbrus, Rusia, Eropa Juli 2007; Gunung Aconcagua, Argentina, Amerika Selatan,
    Desember 2007; Gunung Denali, Alaska, Amerika Utara, Juni 2008; Cartenz Pyramid,
    Indonesia, September 2009).

    Evieta Fadjar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.