Undang-undang Penistaan Picu Ketegangan di Pakistan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan masyarakat berunjukrasa mendukung Undang Undang Penistaan Agama di Karachi, Pakistan (9/1). AP/Fareed Khan

    Ribuan masyarakat berunjukrasa mendukung Undang Undang Penistaan Agama di Karachi, Pakistan (9/1). AP/Fareed Khan

    TEMPO Interaktif, Karachi - Lebih dari 50 ribu orang menggelar protes di Kota Karachi, Pakistan, kemarin mendukung Undang-Undang Penistaan Agama.

    Sebagian besar demonstran merupakan kelompok muslim mayoritas dan sejumlah sekte di kota tersebut, termasuk kelompok moderat dan konservatif. Protes berlangsung hanya beberapa hari setelah terbunuhnya Gubernur Provinsi Punjab Salman Taseer.

    Taseer merupakan seorang moderat yang mendukung amendemen undang-undang. Dia menilai keberadaan UU Penistaan Agama sangat berpotensi memicu kejahatan. Dia diduga ditembak mati oleh salah seorang pengawalnya, Malik Mumtaz Hussain Qadri, setelah membela seorang perempuan Kristen, Aasia Bibi, yang dihukum mati menurut undang-undang tersebut.

    Peristiwa ini memicu perpecahan dalam masyarakat Pakistan dan meningkatkan kekhawatiran di masyarakat Kristen, baik Protestan maupun Katolik, yang jumlahnya sekitar 2 persen dari 170 juta penduduk Pakistan.

    Tidak hanya di Pakistan, kekhawatiran dirasakan oleh umat Kristen di beberapa negara di Timur Tengah, antara lain di Irak dan Mesir. Tepat pada tahun baru lalu, umat Kristen Koptik diserang oleh sebuah bom mobil yang meledak di luar gereja. Peristiwa itu menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Serangan terhadap umat Kristen sebelumnya juga terjadi di Nagaa Hammadi. Seorang militan menembak enam orang Kristen tepat saat malam Natal Koptik.

    Rentetan peristiwa ini memicu protes dan kerusuhan di sejumlah kota di Mesir. Sebagian besar bahkan melihat pengeboman di Kairo memiliki pola yang sama dengan serangan terhadap umat Kristen di Nigeria dan di Bagdad, akhir November lalu. Diduga aksi brutal itu dilakukan oleh kelompok muslim radikal, Al-Qaidah.

    Serangan terhadap umat Kristen memicu keprihatinan di negara yang mayoritas penduduknya Kristen. Di Kanada, sekelompok Kristen Koptik pada Sabtu pekan lalu menggelar demonstrasi menuntut agar umat Kristen di Mesir tidak didiskriminasi. Mereka juga mendesak pemerintah Mesir terlibat dan mengadili pihak yang bertanggung jawab.

    "Kami hanya ingin publik sadar dengan apa yang terjadi di sana," kata Peter Tawfik. "Di sana ada ancaman terhadap gereja-gereja Kanada dan orang-orang di dalamnya."

    BBC | RADIO FREE EUROPE | DAILY NATION | SUNARIAH

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.