Bekas Presiden Israel Terbukti Memerkosa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Moshe Katsav (kanan). REUTERS/Nir Elias

    Moshe Katsav (kanan). REUTERS/Nir Elias

    TEMPO Interaktif, Tel Aviv - Mantan Presiden Israel Moshe Katsav dinyatakan bersalah. Pria 65 tahun ini terbukti melakukan perkosaan dan kekerasan seksual. "Pengakuan Katsav sempat membuat kami bingung," kata juri di  kasus Katsav di pengadilan tingkat pertama. "Tapi kami percaya perkataan peremuan, bila dia tidak bilang tidak maka ya tidak."

    Meski dinyatakan bersalah, hukumannya belum diumumkan. Namun menurut hukum di Israel, bila terbukti bersalah memerkosa hukumannya antara 4 hingga 16 tahun. 

    Katsav meninggalkan ruang pengadilan tanpa sepatah kata. Namun anak Katsav, Ariel Katsav yakin ayahnya tidak bersalah. "Saya akan terus bangga terhadap ayah saya," katanya. 

    Katsav menjabat presiden dari tahun 2000 hingga 2007. Katsav membantah tudingan perkosaan dan pelecehan seksual kepada tiga perempuan bekas asistennya. Dia mengenal perempuan itu pada 1998 saat menjabat menteri pariwisata Israel.
     
    Katsav masih memiliki peluang lolos dari jeratan hukum di tingkat kasasi. Namun bila dia kasasi, ada kemungkinan juga hukumannya diperberat. 

    Katsav bersama keluarganya pindah ke Israel pada 1951. Di umur 24 tahun, dia menjadi wali kota termuda dan menjabat beberapa pos penting dan menjadi anggota kabinet dari partai Likud. Parlemen memilih dia menjadi presiden pada 2000 menggantikan peraih nobel Shimon Peres. 

    Beberapa pihak merasa pengadilan bagi Katsav kurang tepat. "Rasanya tidak menyenangkan melihat bekas presiden disidang melakukan kejahatan serius," kata Moshe Negbi, pengamat hukum kepada Radio Israel. "Tapi di sisi lain, kita harus bangga bahwa semua orang sama di hadapan hukum di negara ini," ujarnya. 

    REUTERS | PGR 



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.