Pakta Baru Nuklir Amerika-Rusia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barack Obama. REUTERS/Kevin Lamarque

    Barack Obama. REUTERS/Kevin Lamarque

    TEMPO Interaktif, Washington - Senat Amerika Serikat menetapkan untuk menyetujui pakta senjata nuklir dengan Rusia, membuktikan kepada Presiden Barack Obama sebuah kemenangan besar atas prioritas top kebijakan luar negerinya.

    Pengesahan perjanjian START Baru tampak meyakinkan setelah 11 anggota dari Partai Republik bergabung dengan Demokrat dalam voting Selasa waktu Washington (kemarin WIB) untuk mengakhiri debat atas pakta yang berlangsung setahun. Itu menyiratkan bahwa Obama harus meraih dua pertiga mayoritas yang dibutuhkannya ketika Senat memberikan suara persetujuan final pada hari ini.

    Persetujuan akan menandai suatu titik besar kembalinya upaya-upaya pengendalian senjata Obama setelah semua perjanjian tampak buntu beberapa pekan lalu. Hal itu juga bakal memungkinkan Gedung Putih melanjutkan langkah-langkah meningkatkan hubungan dengan Rusia. 

    Ratifikasi bakal menandai kemenangan politik besar ketiga baru-baru ini bagi Obama, meskipun Partai Demokrat tercecer dalam pemilu sela kongresional bulan lalu. Dalam beberapa hari ini dia memenangi satu kesepakatan bipartisan soal pajak dan voting pengakhiran larangan bagi para gay untuk secara terbuka masuk militer. 

    “Kami berada di ambang penulisan bab berikutnya dalam 40 tahun sejarah pergulatan memerangi ancaman senjata-senjata nuklir,” ujar Ketua Komite Hubungan Luar Negeri John Kerry, seorang Demokrat, setelah voting itu kemarin.

    Perjanjian itu akan membatasi tiap negara hanya memiliki hulu ledak nuklir 1.550 biji, turun dari batas saat ini 2.200 buah. Hal ini juga akan menciptakan satu sistem untuk pengawasan dan verifikasi. Inspeksi-inspeksi senjata Amerika Serikat berakhir tahun lalu seiring dengan berakhirnya perjanjian yang disepakati 1991.

    Pemerintah menegaskan bahwa itu diratifikasi tahun ini karena mayoritas Demokrat di Senat bakal berkurang lima pada Januari mendatang dan penungguan bisa berarti penundaan berbulan-bulan atau gagal. 

    Partai Republik sempat menuduh Demokrat sibuk berupaya dalam persetujuan perjanjian untuk alasan-alasan politik. Mereka menegaskan, hal itu akan membatasi pilihan pertahanan misil Amerika dan yakin terdapat prosedur-prosedur yang tak memadai untuk memastikan kepatuhan Rusia. 

    Ketika Jon Kyl, yang memimpin Republiken pada negosiasi atas perjanjian, mengusulkan penundaan bulan lalu, Obama tampak tidak mungkin mendapatkan sembilan suara Republiken yang diperlukan untuk pengesahannya.

    Tapi dia dan para anggota top pemerintahan giat melobi, dan Obama menunda liburan Natalnya di Hawaii. Mereka meminta dukungan dari para pejabat militer dan nama besar anggota Partai Republik dari pemerintahan lalu yang meyakini bahwa perjanjian START Baru adalah esensial buat keamanan nasional Amerika Serikat. 

    Pada akhirnya, mereka berhasil membujuk Republiken buat menantang dua pemimpin tinggi di Senat dan mendukung pakta tersebut. “Kami tahu kami bakal kalah,” ujar senator Republik, Orrin Hatch, kepada wartawan beberapa jam sebelum voting, Selasa lalu. 

    Bahkan senator nomor 3 Republik, Lamar Alexander, menyetujui perjanjian tersebut, menyebutkan bahwa dia meyakini pertahanan Amerika Serikat tak bakal melemah. “Pakta bakal membuat Amerika penuh dengan hulu ledak nuklir yang cukup buat meledakkan apa pun penyerang yang bakal datang,” ucap Alexander. Kubu Republik memang mencoba menyikat pakta dengan mengharuskan perubahan dalam bahasa yang akan dikirim ke perundingan dengan Moskow. 

    Di Mumbai, Presiden Rusia Dmitry Medvedev kemarin menyatakan harapannya agar Amerika Serikat meratifikasi pakta senjata nuklir strategis itu dengan Rusia. 

    Medvedev, yang berpidato di depan sejumlah mahasiswa sebagai bagian dua hari lawatannya ke India, juga bilang bahwa, jika Rusia gagal menempatkan diri dalam suatu kerja sama pertahanan rudal NATO-Rusia, hal itu sangat menyulitkan keputusan yang bakal diambil oleh kedua belah pihak dalam tiga hingga lima tahun ke depan. 

    AP | Reuters | BBC | Dwi Arjanto

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.