Desember Bersalju di Australia Bukan Pertama Kali  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Badai salju di Amsterdam, Belanda. AP/Peter Dejong

    Badai salju di Amsterdam, Belanda. AP/Peter Dejong

    TEMPO Interaktif, Sydney - Beberapa negara bagian Australia mengalami anomali cuaca. Biasanya di bulan Desember, iklim di benua Kanguru itu mengalami musim panas. Tapi tahun ini berbeda, di beberapa bagian Ausralia, salju turun cukup lebat. 

    Salju yang turun di antaranya di pegunungan negara bagian New South Wales dan Victoria. Bahkan menurut Badan Cuaca Australia, salju di wilayah pegunungan Mount Buller, Falls Creek dan Moun Hotham turun hingga menutup jalan setebal10 sentimeter. 

    "Semuanya putih tertutup salju, sangat indah, semua orang keluar dengan topi Santa dan berfoto dengan latar salju," kata penduduk Victoria Maureen Gearon. "Saat ini masih cukup dingin, tapi kami pikir salju tidak akan turun saat Natal." 

    Menurut Gearon, suhu saat ini sekitar minus dua derajat celcius, namun suhu ini diperkirakan meningkat pada hari Natal menjadi 8 derajat celcius. "Tapi mungkin masih ada salju tipis saat Natal, cukup untuk membuat beberapa bola salju," ujarnya. 

    Cuaca saat ini memang tidak biasa, kata Gearon, biasanya, di bulan Desember mereka mengalami musim panas. Bahkan pegunungan di Victoria menjadi kunjungan wisatawan untuk menghabiskan musim panas, mereka biasanya bersepeda, bermain kayak dan hiking. "Tapi ini bukan yang pertama kalinya, pada 2006, di sini juga turun salju, jadi di sini sudah biasa, kemarin panas, sekarang dingin dan turun salju," ujar Gearon.  

    Sedangkan di Sydney, suhu turun cukup drastis menjadi 13 derajat celcius dengan kecepatan angin 100 kilometer per jam. Para peramal cuaca meminta penduduk waspada mengantisipasi musim yang aneh dan tidak terduga pada hari Natal. 

    NEWS.COM.AU | PGR 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?