Wawancara Khusus Tempo dengan Aung San Suu Kyi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aung San Suu Kyi. AP

    Aung San Suu Kyi. AP

     
    "Berani sekali Anda datang sendiri menemui saya," ucap Aung San Suu Kyi, pemimpin gerakan damai untuk demokrasi di Burma dan pemimpin partai politik National League for Democracy (LND), saat ditemui Maria Rita dari Tempo di kantornya di Rangoon, Burma, Selasa pagi pekan lalu.
     
    Menemui penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1991 itu, apalagi untuk mewawancarainya, jelas bukan hal yang mudah. Seorang staf Suu Kyi menyatakan perlu usaha ekstrakeras masuk ke Negeri Junta Militer itu terlebih dulu sebelum menemui tantangan berikutnya menemui Suu Kyi.
     
    "Saya ingatkan Anda, segalanya tak ada yang pasti di sini," ujarnya. "Silakan saja menguji keberuntungan Anda."
     
    Tempo berhasil masuk Burma melalui Thailand (cerita tentang "Menembus Burma, Menemui Suu Kyi" akan dimuat secara serial mulai besok). Tapi seorang pejabat NLD yang mengurusi media menyatakan tak bisa memberi jaminan bisa mewawancarai langsung tokoh demokrasi yang belum lama dibebaskan dari tahanan rumah itu.
     
    Menurut dia, puluhan permohonan wawancara dari berbagai media internasional sudah menumpuk. Keputusan menentukan media mana yang akan diterima untuk wawancara ada di tangan Suu Kyi sendiri. Sejauh ini, ujarnya, media internasional yang mewawancarai langsung Suu Kyi belum ada. Ia hanya pernah beberapa kali melakukan wawancara pendek lewat telepon.
     
    Kabar menggembirakan itu pun datang Jumat dua pekan lalu: Suu Kyi memutuskan menerima Tempo. Anak perempuan peletak dasar demokrasi untuk Burma, Jenderal Aung San, yang menyambut Tempo di ruang kerjanya dengan senyum dan keramahan yang tulus itu membuka pembicaraan: "Indonesia, teman dekat kami."

    Berikut ini petikan wawancara Tempo dengan Suu Kyi (wawancara lengkap bisa dibaca di majalah Tempo).

    Bertahun-tahun Anda menjalani hidup sebagai tahanan rumah. Bagaimana Anda melewati hari-hari Anda?
    Kondisi rumah saya dulu sepi dan belum direnovasi. Saya menghabiskan waktu merawat rumah yang bertambah tua. Saya juga memanfaatkan banyak waktu luang dengan mendengarkan siaran radio yang memiliki program acara mengenai Burma, seperti BBC, VOA, Radio Free Asia, dan Democracy Voice of Burma. Saya mendengarkan semua acara itu setiap pagi dan malam, selama hampir 6 jam. Melalui radio, saya jadi tahu banyak apa yang terjadi dengan orang-orang di luar sana.

    Sekarang Anda sudah bebas. Bagaimana rasanya hidup bebas?
    Sangat melelahkan (tertawa). Dalam pikiran saya, tak ada perasaan yang berbeda (antara menjadi tahanan dan hidup bebas). Selama menjadi tahanan rumah, segala sesuatu yang saya lakukan adalah atas pilihan saya sendiri. Saya juga hidup dengan disiplin yang sangat ketat. Saya sangat suka tinggal dalam kehidupan yang penuh disiplin. Namun sekarang saya jadi orang bebas. Begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan acara-acara yang sudah dijanjikan. Jadi, sangat melelahkan menjadi orang bebas (tertawa). Saya mau mengatakan bahwa ini hal baik yang memberikan dirimu pengertian bahwa Anda harus membayar harga dari sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan bukan sesuatu yang datang begitu saja.

    Apa yang menjadi ketakutan terbesar Anda sekarang?
    Saya khawatir terhadap rakyat Burma yang tak cukup memiliki rasa percaya diri. Mereka seharusnya memiliki rasa percaya diri bahwa mereka bisa membuat perubahan dalam hidup mereka. Saya pikir rasa percaya diri itu kini sedang bertumbuh.

    Menurut Anda, kenapa Anda dibebaskan?
    Sederhana saja: secara hukum mereka tak lagi bisa mempertahankan status saya sebagai tahanan rumah. Hukuman terhadap saya harus diakhiri. 

    Apakah Anda yakin pembebasan Anda akan membawa perubahan pada negeri ini?
    Tidak, jika hanya karena pembebasan saya. Tapi pembebasan saya berikut dengan faktor-faktor lain dapat mengubah negara ini. Satu hal yang terpenting adalah semua tahanan politik harus dibebaskan. Lebih dari 2.000 orang masih ditahan di sejumlah penjara. Amerika Serikat dan sejumlah negara di dunia telah berusaha mencari cara meminta pembebasan seluruh tahanan politik paling lambat menjelang Natal tahun ini. Mereka harus bebas untuk kemudian ikut serta dalam proses politik di negara ini.

    Anda sudah membicarakan pembebasan tahanan politik dengan pemerintah?
    Kami sudah meminta pembebasan seluruh tahanan politik sejak 20 tahun lalu.

    Ada kemajuan dari tuntutan tersebut?
    Mereka hanya membebaskan sedikit sekali para tahanan politik dari waktu ke waktu, tapi mereka tak pernah melakukan sesuatu yang sangat substansial, seperti memberikan amnesti umum kepada ratusan tahanan politik.

    Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN tahun depan. Apa harapan Anda terhadap Indonesia dan ASEAN?
    Kami berharap pemerintah Indonesia dan ASEAN mendesak pemerintah Burma mengakui fakta bahwa, hanya melalui proses politik yang inklusif, maka Burma akan mengarah pada kebaikan negara seperti yang kami harapkan. Hanya dan hanya dengan proses politik yang inklusif, kami memiliki kredibilitas di mata masyarakat internasional. Menurut saya, ini hal penting.

    Anda sepertinya tak begitu nyaman dengan kebijakan ASEAN terhadap Burma selama ini?
    Bukan seperti itu. Kami hanya ingin ASEAN lebih proaktif dan kami ingin ASEAN lebih banyak melakukan aksi untuk meyakinkan pemerintah Burma bahwa upaya-upaya inklusif dengan melibatkan semua pihak di Burma itu penting. Itulah yang kami harapkan.

    Anda telah bertemu kembali dengan anak bungsu Anda, Kim Aris, meski Anda masih terpisah dengan keluarga. Dapatkah Anda menjelaskan perasaan dan harapan mengenai mereka?
    Tentu saja saya sangat bahagia bertemu dengan anak saya. Namun situasi saya tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan situasi keluarga para tahanan politik, karena anak saya hidup aman di tempat dia saat ini tinggal (London, Inggris). Sedangkan mereka tak punya apa-apa dan harus mencari uang untuk menghidupi keluarga.

    Pernahkah terbersit di pikiran Anda bahwa satu saat nanti akan ditangkap lagi?
    Well, saya tahu hal itu mungkin saja terjadi karena banyak anggota NLD yang pernah dipenjara bertahun-tahun lamanya, kemudian ditahan kembali. Saya paham hal itu mungkin saja terjadi. Tapi penjara tak ada dalam pikiran saya.

    Siapa saja orang-orang bijak yang mengisi hidup Anda?
    Sebagian besar adalah orang tua saya, meski saya kehilangan ayah sejak kecil. Ibu yang membawa saya untuk menghormati nilai-nilai yang telah diajarkan ayah, yaitu tentang integritas. Kemudian saya mendapatkan inspirasi besar dari Desmond Tutu (Uskup Afrika Selatan peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1984). Bukan karena keyakinannya untuk melakukan hal-hal baik, melainkan karena dia memiliki jiwa besar yang membuatnya mampu menempatkan segala hal di dalamnya untuk melangkah maju.

    Kapan terakhir kali Anda merayakan ulang tahun?
    (Diam beberapa detik.) Saya kira 7 tahun lalu. Saya bahkan tidak mengingatnya (tertawa). Saya ingat ulang tahun saya setelah mendengarkan radio dan tahu dari NLD dan para pendukung saya dari luar Burma yang selalu mengadakan acara untuk merayakan ulang tahun saya.

    Anda rindu merayakannya?
    Tidak juga (tertawa)

     
     
    Baca Besok:

    - Menembus Burma
    - Suu Kyi Penggemar Harry Potter




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.