Kebebasan Pendiri WikiLeaks Julian Assange Tertunda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Julian Assange.   REUTERS/Valentin Flauraud

    Julian Assange. REUTERS/Valentin Flauraud

    TEMPO Interaktif, London - Pengadilan Inggris memberikan status bebas bersyarat kepada pendiri WikiLeaks Julian Assange pada Selasa (14/12). Namun, Assange masih ditahan karena menunggu sikap otoritas Swedia apakah mereka banding terhadap status bebas bersyarat untuk Assange.

    Otoritas Swedia punya waktu dua jam untuk mengajukan banding terhadap keputusan bebas bersyarat tersebut. Pengacara dari pihak Swedia, Gemma Lindfield, mengatakan ia akan mengajukan banding. Banding tersebut akan didengarkan di Pengadilan Tinggi Inggris dalam waktu dua hari.

    Pengacara Assange, Mark Stephens, mengaku sulit memastikan kapan Assange bakal dibebaskan. Sebab, para pendukung Assange sedang mengumpulkan 200 ribu pounds (Rp 2,8 miliar) sebagai syarat Assange dibebaskan.

    "Ada masalah karena ia diberi status bersyarat jika membayar 200 ribu pounds (Rp 2,8 miliar) ke pengadilan di sini. Dan itu merupakan jumlah yang sangat besar. Sayang ia tidak bisa menggunakan Mastercard atau Visa untuk membantunya mengatasi masalah itu," ujar Stephens kepada wartawan.

    Stephens mengatakan jika jaksa dari Swedia mengajukan banding atas keputusan bebas bersyarat tersebut, itu menunjukkan ini merupakan sebuah "penghukuman dan bukan penuntutan".

    Assange, 39 tahun, ditahan di London pekan lalu atas tuduhan kejahatan seks di Swedia. Pria asal Australia ini merupakan pendiri WikiLeaks yang telah membeberkan lebih dari 250 ribu dokumen rahasia diplomatik Amerika Serikat.

    Assange dituding melakukan kejahatan seks terhadap dua warga Swedia yang menjadi relawan WikiLeaks saat Assange tinggal di Swedia. Assange membantah tudingan tersebut dan ia berjuang agar tidak diekstradisi ke Swedia.  

    REUTERS| AP| KODRAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.