Kerabatnya Tewas, Wartawan Pakistan Gugat CIA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat tanpa awak. AP/US Air Force, John Schwab

    Pesawat tanpa awak. AP/US Air Force, John Schwab

    TEMPO Interaktif, Serbuan pasukan Amerika Serikat di Pakistan menuai gugatan. Dentuman bom pesawat tanpa awak ternyata mencabut nyawa penduduk sipil tak berdosa, bukan pimpinan Taliban.

    Akibat salah serang dilontarkan pesawat tanpa awak, wartawan Pakistan, Karim Khan,  menggugat pimpinan dinas intelijen Amerika Serikat, CIA di Islamabad, sehingga keluarganya tewas.

    "Kami minta Jonathan Banks tak boleh meninggalkan Pakistan," ujar Karim Khan.

    Jonathan Banks adalah pimpinan CIA berkedudukan di Islamabad, ibu kota Pakistan. "Dia harus ditahan dan dieksekusi di negara ini," tambahnya.

    Khan berbicara di luar kantor kepolisian Islamabad usai mengajukan permintaan agar pejabat Amerika Serikat tersebut dilarang meninggalkan Pakistan. Dia juga meminta ganti rugi atas berbagai kerusakan dari Amerika Serikat senilai US$500 juta (Rp 4,5 triliun).

    Menurutnya, saudara dan putranya, keduanya adalah pegawai pemerintah, tewas akibat serangan pesawat tanpa awak CIA di dekat rumahnya di Mir Ali, Waziristan Utara, Desember 2009.

    Dalam laporannya, pers setempat menyebutkan, target serangan tersebut adalah Haji Omar, seorang komandan Taliban. Khan bersikeras bahwa Omar tidak berada di dalam rumahnya dan yang menjadi korban adalah seluruh kerabatnya yang tidak berdosa.

    "Mereka tidak tahu apa-apa tentang Taliban," kata pengacaranya, Shahzad Akbar.

    Mir Ali merupakan sarang al-Qaidah dan militan Taliban. Dari tempat ini, mereka meningkatkan serangan terhadap pasukan Amerika Serikat. Akbar melanjutkan, kliennya telah mengindetitikasi bahwa Banks merupakan pimpinan CIA di Islamabad. Dia masuk ke Pakistan dengan bisa bisnis dan sesungguhnya tak bisa mendapatkan kekebalan diplomatik.

    GUARDIAN | CHOIRUL  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.