Risihnya Perempuan Saudi Soal Baju Sendiri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja Perempuan Arab Saudi (telegraph.co.uk)

    Pekerja Perempuan Arab Saudi (telegraph.co.uk)

    TEMPO Interaktif, Hal pertama yang dilakukan Dalya saban memasuki toko baju di Arab Saudi adalah mengamati area itu mengecek adakah pria setelah kejadian memalukan tahun lalu. Dengan renda penuh warna, katun dan bra tipis pada layar, perempuan 26 tahun itu jelas ingat ketika secara acak mengambil salah satu diamati, terkejut oleh suara seorang pria berkata, "Bra itu bukan ukuranmu, Anda perlu satu dua ukuran lebih besar."

    Ternyata itu seorang pelayan pria yang mencoba membantunya, dia tersadar, meskipun dia lebih tenang ketika dia menyadari bahwa pria itu telah "mengamati" dengan jitu memperkirakan ukuran baju dalamnya.

    Di negeri ultra-konservatif Arab Saudi -dimana para wanita telah lama dilarang ambil bagian bekerja di tempat-tempat umum yang memungkinkan akses kaum lelaki-- bahkan toko-toko baju dalam perempuan, kebanyakan karyawannya tetap laki-laki. Patroli polisi agama rutin berkeliling di jalanan memastikan kepatuhan dengan hukum yang ketat dan memastikan bahwa para perempuan, yang tak boleh menyetir, selalu tertutup baju panjang hitam (abaya) saat mereka keluar di muka umum.

    "Saya kaget karena saya menyadari bahwa salesman itu benar-benar memelototi tubuh saya, meskipun saya tertutup oleh abaya saya. Dan dia benar-benar bisa menebak ukuran saya dengan tepat," kata Dayla, nama belakangnya dirahasiakan untuk melindungi privasinya, Kamis lalu, di Jeddah, Arab Saudi. "Hal itu membuat saya sangat tidak nyaman."

    Ketidaknyamanan Dalya dengan situasi urusan-urusan macam itu berkembang menjadi keprihatinan diantara perempuan Arab Saudi yang dipaksa membeli busana dalam mereka dari para pria dalam sebuah masyarakat konservatif dimana kesederhanaan perempuan adalah begitu penting.

    "Bayangkan, seorang pria (asing) melihat baju daleman (bra, celana dalam, atau lainnya) Anda. Itu sangat-sangat memalukan. Kami tumbuh dalam kesopanan dan agama. Hal-hal pribadi kami seharusnya tak boleh dilihat orang-orang lain," tegas Fatima Qaroob, yang melansir sebuah kampanye bulan lalu menyerukan semacam di toko-toko baju tertentu para pelayan pria diganti oleh para perempuan.

    "Saya merasa seperti ditelanjangi," tukas Qaroob dengan geram, mengingat satu kejadian ketika seorang kasir di sebuah toko baju dalam, mengobrak-abrik barang yang ditelah dipilihnya dalam upaya mencari label harganya. Kasir itu tentu saja pria karena memang perempuan dilarang menjadi kasir apapun di seantero Arab Saudi. Nah lo.

    Namun, perubahan di kerajaan kaya minyak itu tidak datang dengan mudah dan kampanye Qaroob "Cukup Sudah Malu" bukanlah upaya pertama untuk mengganti para pelayan laki-laki di negeri itu. Pada tahun 2006, para pebisnis Saudi menolak keputusan pemerintah mendorong mereka untuk memperkerjakan penjual perempuan untuk toko-toko yang menjual produk-produk intim perempuan dengan alasan hal itu akan meningkatkan biaya untuk aturan ketat negara terkait pemisahan.

    Suatu boikot oleh sekelompok perempuan Saudi terhadap toko-toko busana daleman gagal penekan para pebisnis untuk menerapkan peraturan 2006 karena mereka tak punya cara-cara alternatif soal jual beli pakaian dalam. "Jika kami sebagai perempuan memboikot toko-toko macam itu, apa alternatif kami? Dimana kami bisa membelinya?" kata Qaroob setengah putus asa. Dia memutuskan kampanyenya --yang dilansir dari kota terbesar kedua Saudi, Jeddah, dan telah mengumpulkan 6300 dukungan sejauh ini-- akan fokus pada desakan perubahan untuk mempermudah bisnis.

    Reuters | Dwi Arjanto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.