Amerika Anggap Indonesia Mitra Penting

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbincang dengan  Presiden Amerika Barack Obama saat mengadakan pertemuan bilateral disela KTT APEC di Singapura, Minggu (15/11). ANTARA/Rumgapres/Dudi Anung

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbincang dengan Presiden Amerika Barack Obama saat mengadakan pertemuan bilateral disela KTT APEC di Singapura, Minggu (15/11). ANTARA/Rumgapres/Dudi Anung

    TEMPO Interaktif, New Delhi-Kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Asia didukung sejumlah petinggi perusahaan eksportir di sana. Mereka menyatakan lawatan selama 10 hari ke Asia bisa menjadi peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan di Amerika Serikat. "Memperkuat kemitraan dalam banyak dimensi, ekonomi salah satunya," kata CEO AES Corporation, sebuah perusahaan energi, Paul Hanrahan. 

    Dalam lawatan ke India, misalnya, Obama mengangkut sekitar 200 kepala eksekutif sejumlah firma di negerinya, mulai dari perusahaan teknologi, penerbitan, hingga kimia. Di sana pun Obama dan Perdana Menteri India Manmohan Singh meneken kerja sama kemitraan dagang senilai US$ 10 miliar. "Amerika Serikat dengan India akan menjadi mitra yang sangat penting pada abad ke-21 ini," kata Obama. 

    Lalu, bagaimana dengan Indonesia, yang akan dikunjungi Obama hari ini? Deputi Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Ben Rhodes, menganggap Indonesia sebagai persinggungan dari banyak kepentingan utama Amerika Serikat. "Kemitraan ini amat penting bagi masa depan kepentingan Amerika di Asia dan dunia," ujarnya. Menurut dia, Amerika akan meningkatkan bantuan pendidikan dan ekonomi serta keamanan. 

    Direktur Program Asia Tenggara di Pusat Strategi dan Studi Internasional di Washington, Ernest Bower, mengatakan besar kemungkinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Obama akan meneken kesepakatan Pakta Kemitraan Komprehensif, yang telah disepakati kedua pemimpin itu setahun lalu. "Ini efektif meningkatkan hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia ke tingkat substansial yang baru," ujar Bower. 

    Pakta itu meliputi kerja sama perdagangan dan investasi, keamanan maritim, kontraterorisme, pendidikan tinggi, dan kerja sama perubahan iklim. Maklum saja, Indonesia kini dipandang telah memasuki babak baru sebagai kekuatan baru ekonomi, sebagaimana Brasil, Rusia, India, dan Cina. "Kemunculan otoritarianisme di Thailand membuat Indonesia dipandang sebagai pembawa obor bagi demokrasi di Asia Tenggara," ujar Rhodes. 

    Cuma, tak sedikit yang menganggap lawatan Obama ke Asia ini sebagai upaya untuk menyaingi pengaruh Cina di Asia. Apalagi belakangan ini sejumlah negara anggota Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) kerap bersitegang soal tapal batas Laut Cina Selatan dengan Cina. "Cina telah merusak pengaruhnya sendiri di kawasan, dan juga Indonesia," ujar peneliti Asia pada Dewan Hubungan Internasional, Joshua Kurlantzick. 

    Padahal, kata Kurlantzick, selama tahun 2000-an Amerika Serikat sama sekali tidak menganggap Asia Tenggara. "Amerika Serikat kurang tertarik," ujarnya. Belakangan, setelah perang soal mata uang dengan Cina, Washington mulai melirik dukungan Asia. "Washington mencoba menghidupkan kembali perekonomiannya yang lemah," demikian dilansir The Times, "Mengumpulkan dukungan untuk menekan mata uang Cina." 

    GUARDIAN | THE TELEGRAPH | REUTERS | ANDREE PRIYANTO





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.