Berlusconi: Suka Gadis-gadis 'Lebih Baik Ketimbang Menjadi Gay'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Silvio Berlusconi dan Ruby

    Silvio Berlusconi dan Ruby

    TEMPO Interaktif, Roma -Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi hari ini menolak seruan untuk mundur terkait laporan-laporan dia membantu seorang gadis berusia 17 tahun yang menghadiri pesta-pesta di rumahnya. Dia bilang bahwa “lebih baik suka kepada gadis-gadis cantik ketimbang menjadi gay”.

    Berlusconi menolak meminta maaf atas kegemarannya kepada para perempuan belia dan membantah berbuat sesuatu yang salah, setelah kasus atas gadis yang dikenal dengan nama Ruby mengisi berita harian-harian Italia pekan lalu dan para anggota parlemen oposisi mendesaknya mengundurkan diri.

    “Seperti biasa, saya bekerja tanpa interupsi dan kadang-kadang jika saya mencari seorang gadis berparas cantik. Lebih baik suka gadis cantik daripada menjadi gay,” ujar politisi flamboyan itu tanpa tedeng aling-aling dalam sebuah pertemuan pada pameran industri sepeda motor di Milan, Italia.

    Dia menambahkan, “Anda harus benar-benar meyakinkan pemerintah dan fakta bahwa pemerintahan ini masih mayoritas berniat menjalakan pemerintahan sampai dengan akhir mandat.”

    Berlusconi, yang telah kusut masai oleh media atas pesta-pesta dan perempuan di masa lalu, berada di bawah tekanan yang meningkat sejak harian-harian pekan lalu melansir laporan-laporan tentang para gadis belia yang diundang ke pesta-pestanya di vila mewahnya di Arcore dekat Milan, Italia.

    Harian Corriere della Sera misalnya menulis detil-detil panggilan telepon yang menyebut Berlusconi menghubungi seorang kepala polisi Milan terkait Ruby ketika dia ditangkap karena insiden terpisah kasus pencurian di bulan Mei. Hal itu memunculkan pertanyaan apakah dia bersalah telah melakukan intervensi agar gadis itu dibebaskan.

    Reuters | dwi arjanto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.