Putra Tertua Pemimpin Korea Utara Kecam Rencana Suksesi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kim Jong Nam. AP/JoongAng Sunday via JoongAng Ilbo, Shin In-seop

    Kim Jong Nam. AP/JoongAng Sunday via JoongAng Ilbo, Shin In-seop

    TEMPO Interaktif, Beijing - Putra tertua pemimpin Korea Utara Kim Jong Il mengatakan ia menentang penyerahan kekuasaan secara turun-temurun kepada adik tirinya yang bungsu.

    Ini merupakan isyarat publik pertama terkait perselisihan dalam proses suksesi tersebut, meskipun analis mengatakan Kim Jong Nam menghabiskan begitu banyak waktu di luar tanah kelahirannya sehingga pendapatnya kurang berpengaruh.

    Kim, berusia 39 tahun dan berpostur gemuk, adalah putra tertua dari tiga bersaudara yang dalam posisi paling dekat dengan kekuasaan. Dia dikenal sebagai playboy.

    Tidak seperti banyak warga sebangsanya yang pulang karena tidak memiliki sumber daya dan koneksi untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, Kim melakukan perjalanan dengan bebas dan menghabiskan banyak waktu di Cina atau wilayah otonomi khusus negara Macau - pusat judi Asia dengan kasino yang bergaya Las Vegas.

    Ia sering mengunjungi hotel bintang lima dan restoran mahal. Pada bulan Juni, dia difoto di Macau mengenakan sepatu biru Ferragamo.

    Berbicara dalam bahasa Korea, dia mengatakan pada Jepang TV dalam sebuah wawancara dari Beijing yang ditayangkan Senin malam dan Selasa, bahwa ia "melawan suksesi generasi ketiga," tetapi menambahkan, "Saya pikir ada faktor internal. Jika ada faktor internal, (kita) harus mematuhinya. "

    "Saya tidak menyesal tentang hal itu. Saya tidak tertarik di dalamnya dan saya tidak peduli," kata Kim, ketika ditanya apakah dia OK dengan rencana suksesi.

    Kim mengatakan dia berharap saudaranya akan melakukan yang terbaik untuk membawa kelimpahan bagi kehidupan Korea Utara dan bahwa ia siap untuk membantu dari luar negeri.


    AP | EZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.