Wolfgang Pacaran, Sabine Ngamuk  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Almarhum Wolfgang dan putranya, Roman.

    Almarhum Wolfgang dan putranya, Roman.

    TEMPO Interaktif, Wolfgang R., 44 tahun, tak punya firasat buruk, ketika Minggu itu menjemput anak laki-lakinya, Roman, 5 tahun, di apartemen bekas istrinya, Sabine R., 41 tahun. Setiap akhir pekan Roman memang menginap di tempat ibunya, di Loerrach, sekitar 30 kilometer dari rumah Wolfgang di Schwarzwald, Jerman Selatan.

    Konon, pasangan yang berpisah sejak Juni lalu itu sering bertengkar meributkan hak asuh anak. Tapi ternyata sore hari itu berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Kedatangan Wolfgang disambut Sabine dengan todongan pistol di kepalanya. Dan... "Dor!" satu peluru bersarang di kepala Wolfgang, dan satu lagi di lehernya.

    Laki-laki berkacamata itu langsung tersungkur dan koit. Sabine, yang kalap, lalu menghampiri Roman dan memukulinya tanpa ampun. Jerit tangis kesakitan anaknya malah membuat Sabine kian kesetanan. Kepala anaknya disarungi kantong plastik hingga tewas tercekik. Hal itu diungkapkan polisi Negara Bagian Baden Wurttemberg kepada wartawan.

    Aksi Sabine, wanita pengacara berambut pendek, tak berhenti di situ. Setelah menghabisi anggota keluarganya, ia meledakkan gas pemanas ruangan di apartemennya, dan berlari ke arah Rumah Sakit St. Elizabethen yang ada di seberang jalan. Di depan gang ia berpapasan dengan Ernst B. Lagi-lagi Sabine mengacungkan senjata ke kepala Ernst.

    Pasien 69 tahun itu gemetaran. Tapi dengan tenang ia meminta Sabine meletakkan senjata dan pisau yang digenggamnya. Cuma, perempuan yang lagi kesetanan itu tak bisa lagi diajak bicara. Dengan mata nanar, ia menembak kepala Ernst. Beruntung peluru cuma menyerempet pelipisnya.

    "Kalau saja peluru itu melesat beberapa inci lagi ke bawah, saya pasti tamat," katanya kepada Tempo sembari memperlihatkan jahitan di kepalanya, dengan suara gemetar. Setelah menembak, kata Ernst, Sabine terus berlari ke bagian kandungan di lantai satu. Entah kenapa dia berlari ke sana, tapi di sinilah pada 2004 ia dirawat karena keguguran.

    Tampaknya ia ingin menghapus trauma dengan menghabisi orang-orang yang membuat kehamilan yang sudah 16 minggu itu gugur. Di sini Sabine menembak dengkul polisi dan satu perawat yang baru keluar dari ruang makan. Perawat nahas berusia 56 tahun ini ditembak tiga kali di bagian kepala dan ditusuk berkali-kali. Ia tewas seketika.

    Sabine lantas memberondongkan pelurunya dari pistol otomatis Walther Longrifle kaliber 22 mm yang erat digenggamnya ke arah kamar pasien. Tapi tak ada korban di sini. Aksi Sabine baru berhenti setelah polisi beruntun menembaknya. 

    Tak tanggung-tanggung, sampai 17 kali! Beberapa peluru menembus punggungnya. Sabine tak sempat lagi mengerang, ia kontan roboh bersimbah darah. Konon sekitar 100 polisi diturunkan untuk mengepung lokasi. Polisi menemukan sekitar 300 amunisi di dalam tas Sabine. Polisi juga mencatat puluhan orang luka-luka akibat ledakan dan kebakaran di apartemennya.

    Jenazah Wolfgang dan anaknya, yang erat memeluk boneka Teddy Bear-nya, ditemukan di bawah reruntuhan puing. Apa motifnya sehingga perempuan terpelajar ini kehilangan kendali? Sabine punya kantor pengacara, dan mengendarai mobil Mercedes tipe terbaru. Bagaimana seorang yang mapan sampai melakukan aksi brutal?

    Tetangga pun tak habis pikir wanita cantik ini sampai punya jiwa membunuh. Meski sering kelihatan murung, Sabine dikenal ramah dan terbuka. "Motifnya belum jelas, tapi diduga karena persoalan keluarga," kata Kepala Polisi Negara Bagian Baden Wurttemberg, Wolf Hamman. 

    Yang bikin gonjang-ganjing lantaran Wolgang punya pacar baru. Itu pun terjadi gara-gara Sabine suatu hari berteriak kepada suaminya, "Jika kau mau punya anak lagi, cari saja perempuan lain. Aku tak mau hamil lagi!" Lalu, katanya lagi, "Baru saja mulai studi lagi, kenapa harus disibukkan dengan mengganti popok bayi?"

    Velinka Feldmeyer, 62 tahun, menirukan ucapan Sabine, tetangga dekatnya itu, kepada Tempo. Pertikaian itu bertambah-tambah ketika orang tua Wolfgang sakit, dan Sabine terpaksa mengasuh Roman selama dua setengah minggu. Rupanya Wolfgang benar-benar menjawab tantangan Sabine.

    Tak lama, ia pacaran lagi. Inilah yang menyebabkan pasangan itu berpisah. Dan Sabine geram melihat suaminya yang ganteng menggandeng pacar barunya, wanita berambut pirang. Ia angkat kaki dari rumah mereka dan pindah ke Loerrach, kota kecil berpenduduk 81 ribu orang, di dekat perbatasan Swiss.

    Semua miliknya hilang: rumah, suami, dan anaknya. Sabine sakit hati. Dan empat bulan kemudian terjadilah tragedi itu. Psikolog Annegret Wiese mengatakan, "Seorang ibu yang membunuh anaknya biasanya jiwanya tertekan. Membunuh adalah jalan keluar dari impitan perasaan itu," ujar dia kepada Tempo.

    Pihak berwajib mensinyalir ada 20 ribu senjata api ilegal yang beredar. Tapi Sabine legal memiliki senjata. Ia lulus olahraga bela diri dari klub olahraga di Mosbach sejak 1996, sehingga ia berhak memiliki senjata api. Penyalahgunaan senjata itu yang kini menjadi kasus besar di Jerman.

    Sri Pudyastuti Baumeister (Jerman)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?