Ahmedinejad: Perdana Menteri Israel Pembunuh Berteknik Tinggi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. AP/Hasan Sarbakhshian

    Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. AP/Hasan Sarbakhshian

    TEMPO Interaktif, New York - Presiden Iran Mahmoud Ahmedinejad terus melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Setelah sesumbar negaranya akan tumbuh jadi superpower dan kapitalisme akan berakhir, dia mengatakan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu adalah pembunuh berteknik tinggi.

    "Dia harus disidang karena membunuh perempuan dan anak-anak," ujarnya dalam talk show Larry King, seperti dikutip CNN, Kamis (23/9). Netanyahu memang memiliki rekam jejak militer yang kuat. Selepas SMA, dia bergabung dengan Sayeret Matkal, pasukan elit Tentara Pertahanan Israel. Dia aktif di militer selama lima tahun.

    Tahun lalu, dia menuding program nuklir Iran merupakan ancaman bagi keamanan negaranya. Netanyahu, 60 tahun, mengatakan Ahmedinejad tidak tahu malu karena telah meragukan holocaust, pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman di Perang Dunia II.

    Selama wawancara Ahmedinejad menolak menyebut "Israel", dan menggantinya dengan "Rezim Zionis".

    Dalam wawancara yang menggunakan penerjemah itu, dia menyatakan tidak mengembang senjata dalam program nuklir Iran. Presiden ke-6 Iran ini menolak tudingan Agen Energi Atom, badan PBB tentang pengawasan nuklir, yang meragukan klaim Iran bahwa teknologi nuklir tidak digunakan untuk kepentingan militer. "Hanya rezim zionis dan beberapa otoritas Amerika yang kuatirkan hal itu," ujarnya.

    Menurutnya, justru kedua negara itu yang perlu melucuti senjata pemusnah massal mereka. "Bom AS dan rezim zionis merupakan ancaman bagi dunia," kata presiden berusia 53 tahun ini.

    Mantan wali kota Teheran ini berada di New York, AS, untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Target Pembangunan Milenium.

    CNN | REZA M


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.