Risiko Maut Kandidat Legislatif Perempuan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Robina Jalali. BBC

    Robina Jalali. BBC

    TEMPO Interaktif, Paras rupawannya gampang dikenali. Robina Jalali, atlet wanita Afganistan yang pernah bertanding di Olimpiade Beijing 2008, berlaga untuk pemilu parlemen yang digelar pada Sabtu lalu.

    Dalam sebuah pasar ramai di Kabul, Jalali berkampanye untuk parlemen. Dengan balutan kerudung sutra dan dandanan tipis, dia berbeda dari wanita di sekelilingnya yang berbusana burka--yang tertutup dari kepala sampai kaki. 

    Jalali tentu saja wanita Afganistan yang tidak konvensional. Pelari cepat kelas olimpiade itu yakin akan keberhasilannya dalam pemilu akhir pekan lalu. "Jika pemilu ini transparan dan adil, saya yakin kepada orang-orang yang ingin memilih saya untuk duduk (di parlemen). Saya pikir saya bisa mendapatkan (banyak suara), " ucapnya, bungah, Kamis pekan lalu. 

    "Aku akan memilihnya (Jalali) sebagai anggota legislatif karena dia masih muda dan dapat membantu kaum muda negeri ini, " kata salah seorang warga yang hadir. 

    Namun langkah Jalali, juga kandidat perempuan yang lain, bak meniti terjal. Di markas kampanyenya di Ibu Kota Kabul, puluhan pekerja, kebanyakan laki-laki muda, tampak sibuk mempersiapkan lagi poster-poster kampanye. Pasalnya, seperti halnya calon perempuan lain, banyak poster Jalali yang telah dirusak dan dibuang. 

    Beberapa di antara mereka telah menerima ancaman pembunuhan dari Taliban. Sejumlah calon dan pekerja kampanye telah dibunuh. Jalali menuturkan, "Ya, aku terancam. Setiap malam ketika saya pasang poster saya, pada pagi harinya saya tidak menemukannya." Dia blakblakan menyebutkan bahwa beberapa orang pernah menemuinya dan mengatakan ia bakal terbunuh. 

    "Saya berfokus pada kampanye di pusat kota karena saya tidak bisa melakukan perjalanan ke distrik-distrik, padahal saya ingin pergi ke daerah pedesaan. Tapi itu tidak aman," tutur Jalali serius. 

    Secara umum, para anggota parlemen perempuan bukan jaminan untuk hak-hak perempuan. Parlemen terdahulu malah mendukung undang-undang yang menetapkan bahwa para wanita Syiah tidak bisa menolak tuntutan seksual suami. Dan terserah kepada suami untuk memutuskan apakah istri dan anak-anak perempuan bisa bersekolah. Sebenarnya eksistensi anggota parlemen perempuan di Afganistan secara luas dilindungi hukum. 

    Di rumahnya di Kabul, anggota parlemen Hawa Nooristani menunjukkan burka yang dipakainya selama kampanye di distrik wilayah rumahnya. Dia maju lagi dalam pemilu kali ini. Dia menjelaskan, "Hak yang diberikan kepada wanita oleh Islam adalah unik, tapi masyarakat tidak mengakui hak-hak ini. Ada banyak perempuan di dunia yang telah jauh lebih baik dan lebih aktif daripada laki-laki, seperti Indira Gandhi dan masih banyak lagi." 

    "Sebagai contoh, anak perempuan saya lebih pintar dari putra saya. Tetapi problemnya di Afganistan, laki-laki tidak menerima hak-hak perempuan. Mereka bilang perempuan buta huruf dan bodoh," ucap Nooristani. 

    Pandangan radikal ini bisa berisiko membahayakan nyawanya. Tak aneh jika Nooristani mengatakan hanya dapat mengekspresikan itu kepada wartawan asing. "Kami harus berhati-hati karena kami ingin membantu perempuan Afganistan dan mencapai tujuan kami. Jujur saja, saya bakal dibunuh dengan cepat dan, bila pergi, saya tak bisa membantu perempuan Afganistan lagi," ucapnya, lirih. 

    Tapi, apa yang terpikirkan oleh kalangan perempuan tentang pemilu dan banyaknya perempuan Afghanistan yang menjadi kandidat anggota parlemen? 

    Shafaq Shaima Sadat adalah Direktur Proyek Madina Craft Community di Kabul. Dikelilingi oleh beberapa wanita muda dengan leher berkalung ulir, Kamis pekan lalu, perempuan paruh baya itu memaparkan harapannya soal pemilu. 

    "Kami ingin anggota parlemen, pria ataukah wanita, yang berpendidikan. Yang mengerti masalah rakyat dan memiliki ide-ide buat memperbaiki negeri ini," ujar Shaima. "Soal gender tidak penting. Tapi, jika perempuan lebih mampu dalam pemerintahan, itu positif. Hak bekerja dan pendidikan perempuan terabaikan di bawah rezim Taliban."

    Begitulah, demokrasi muda di Afganistan telah menuju kebebasan yang lebih besar buat para perempuan. Tantangan untuk parlemen berikutnya adalah menjamin kemenangan hak-hak perempuan tidak hilang. 

    BBC | dwi arjanto


















     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.