Muslim di Manhattan Butuh Tempat Salat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Park Place di Manhattan. AP Photo/Lanzano Louis

    Park Place di Manhattan. AP Photo/Lanzano Louis

    TEMPO Interaktif, New York - Muslim di Mahanttan membutuhkan tempat salat yang selama ini mereka lakukan di lantai dasar gedung atau jalanan.

    Mereka tidak ingin konfrontasi dengan penentang pembangunan masjid baru, hanya ingin ruang salat yang memadai.

    Hingga kini warga New York trauma atas serangan 11 September 2001, sehingga mereka menentang usulan komunitas Muslim untuk mendirikan Islamic Centre dan masjid di radius dua blok dari World Trade Centre.

    Sementara itu, kendati mendapat kecaman masyarakat dan kritik dari Partai Republik, Presiden Barack Obama setuju dengan usulan umat Muslim di sana untuk mendirikan bangunan tersebut.

    Salah satu alasannya, banyak umat Muslim bekerja dan menjadi karyawan di kawasan Manahattan sehingga sehari-hari mereka perlu tempat ibadah.

    "Anda tahu berapa banyak umat Muslim di kawasan ini? Pada hari Jumat jalanan ditutup dan kami diperkenankan polisi untuk memblokir jalan," kata Saad Madaha, 32 tahun, seorang konsultan asal Ghana yang salat di Masjid Mahattan terletak di lantai dasar night club.

    "Saya ingin melihat sebuah masjid layaknya masjid. Saya ingin kesana dan salat, serta khusuk beribadah tanpa musik yang bikin kepala saya mumet."

    Masjid Manhattan, satu di antara dua masjid di kawasan ini, terletak empat blok dari World Trade Centre. Di depan pintu ada tulisan "MASJID".

    Kecaman bermunculan terutama dari keluarga korban serangan 11 September 2001 yang menelan nyawa 3000 orang ketika pembajak al-Qaidah menabrakkan pesawat ke dalam menara kembar dan Pentagon, kantor Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

    Sejumlah umat Muslim mengatakan, mereka bisa mengerti mengapa masyarakat marah dan mendukung upaya Gubernur David Paterson memindahkan proyek pembangunan tersebut demi menjaga emosi masyarakat.

    "Kami membutuhkan masjid dimanapun, kalau di Ground Zero akan menjadi masalah sepanjang masa," kata Sheikh Hossein, 42 tahun, seorang imigran asal Bangladesh.

    "Saya ingin salat dengan tenang. Saya tak ingin salat dan berkelahi dengan siapaun di sini. Jika masjid ini dibangun di sini, setiap ada terorisme mereka akan menyalahkan kami," ujarnya.

    Seperti Madaha, yang lain mengatakan relokasi merupakan penghinaan. "Jika mereka memindahkannya, bagi saya, hal tersebut tamparan pada agama," katanya.

    REUTERS | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.