Pekan Depan Kamboja Vonis Salah Satu Pelaku Killing Fields

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan pejabat Khmer Merah Kaing Guek Eav yang dikenal sebagai

    Mantan pejabat Khmer Merah Kaing Guek Eav yang dikenal sebagai "Duch" di Pengadilan Luar Biasa Kamboja di Phnom Penh, Kamboja (17/2). Duch dituduh telah melakukan pembunuhan masal. Foto: AP

    TEMPO Interaktif, Phnom Penh -Pengadilan pertama yang didukung oleh PBB atas anggota senior rezim Khmer Merah pembunuh dalam "Killing Fields" akan mengirim sebuah putusan pekan depan yang bisa mengarah terungkapnya salah satu bab tergelap dalam awal abad ke 20.

    Kepala Penjara dan penyiksa dari Khmer Merah, Kaing Guek Eav, 67 tahun, didakwa dengan pasal kejahatan perang dan kejahatan melawan kemanusiaan atas kematian 14 ribu orang. Dia sebagai komandan penjara pengkhianat Tuol Sleng di Phnom Penh.

    Lebih dikenal dengan nama “Duch”, dia secara luas diperkirakan bakal menerima ganjaran maksimum berupa hukuman penjara seumur hidup pada Senin pekan depan oleh pengadilan gabungan Kamboja-PBB yang dirancang buat mengadili rezim ultra Maois atas kematian 1,7 juta rakyat Kamboja pada 1975-1979.

    Apapun kalimat hukuman yang lebih rendah, kata para pengamat, dapat memicu kemrahan publik dan lebih jauh akan menggoyahkan kredibilitas pengadilan yang telah dirusak oleh tuduhan korupsi dan campur tangan politik.

    "Kamboja akan kehilangan kepercayaan di Mahkamah ini jika Duch tidak mendapatkan hukuman maksimal," kata Pou Sothirak, mantan diplomat Kamboja yang sekarang menjadi peneliti senior di Singapore Institute of Southeast Asian Studies. "Ini adalah hari yang sangat penting dan bersejarah bagi Kamboja. Jika orang tidak percaya keadilan disajikan, mereka tidak dapat bergerak menuju apapun penyembuhan atau penutupan, " katanya.

    Chum Mey, salah satu dari hanya beberapa yang selamat dari penyiksaan pusat Duch, S-21 dan seorang saksi kunci dalam persidangan, mengatakan bahwa hukuman yang lebih rendah mungkin hanya memperpanjang kenangan pahit di negara di mana sebagian besar keluarga menderita karena kehilangan anggotanya oleh tangan rezim itu.

    "Jika dia tidak dihukum seumur hidup, tak ada lagi keadilan," tegas Chum Mey, 79 tahun kepada Reuters hari ini. "Kami sudah menunggu selama lebih dari 30 tahun. Itu benar-benar waktu sangat panjang. "

    Reuters | dwi a


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.