Hobi Mencium, Politisi Dilempari Celana Dalam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 1000.org.pe

    1000.org.pe

    TEMPO Interaktif, Lima -Perkenalkan, Charles Zevallos, seorang politisi flamboyan di daerah cekungan Amazon, Peru. Dia sering menang sesuatu sehingga beroleh ciuman atau sekedar cipika-cipiki dari para pendukung perempuannya. Tapi keadaan sudah berubah kepada level baru begitu para wanita pada reli kampanyenya mulai melemparkan (maaf) celana dalam ke arahnya. Wah.

    Zevallos memang sibuk berkeliling. Kandidat walikota di provinsi Maynas itu punya satu tradisi royal tebar hadiah kepada para fans, jam-jam tangan atau bola-bola sepak dalam kampanyenya yang ditukar dengan mencium perempuan.

    Namun beberapa hari lalu, sejumlah pendukungnya bertindak mengejutkan. Entah jengkel atau gemas, ramai-ramai sejumlah perempuan mencopot pakaian dalam dan langsung melemparkan ke arahnya dalam pawai untuk partai progresifnya, 1000 Movimiento Integracion Loretana.

    Seperti dilaporkan Reuters, Selasa (22/6) kemarin, Zevallos agaknya diremehkan mirip apa yang dialami Tom Jones, seorang penyanyi lagu-lagu Welsh yang beberapa tahun silam dihujani celdam perempuan ketika tampil di panggung-panggung konser musik pop.

    Para komentator politik di Ibukota Peru, Lima, sekitar 990 mil dari Maynas, mengatakan pelemparan properti “segitiga” pribadi itu membuktikan bahwa politik di negeri Andean itu telah merosot mencapai titik nadir baru.

    “Itu spontan saja, saya tak meminta mereka, tapi saya lihat 'secuil kain' berwarna kuning melayang, dan lalu perempuan lain melemparkan bendanya kepadaku,” ujar Zevallos dengan muka campur aduk.

    Pria paruh baya itu bilang tak mungkin menyalahkan ulah gila pendukungnya. “Saya tak tahu apakah ini akan berhenti. Itu benar-benar gila sekarang. Orang-orang memang mencintai saya,” imbuh Zevallos sok yakin. Busyet.

    Reuters|dwi arjanto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.