The Karate Kid atau The Kung Fu Kid?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jackie Chan (kiri) dan Jaden Smith pada premiere film The Karate Kid di Los Angeles (7/6). REUTERS/Mario Anzuoni

    Jackie Chan (kiri) dan Jaden Smith pada premiere film The Karate Kid di Los Angeles (7/6). REUTERS/Mario Anzuoni

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Film layar lebar yang tengah diputar di bioskop saat ini, "The Karate Kid" menjadi perdebatan di Hollywood, Amerika Serikat. Pengamat perfilman Mike Krumboltz dalam tulisannya di Yahoo! Movies mengatakan, peranan Jackie Chan sebagai Han, sang pelatih beladiri dan Jaden Smith atau Dre Parker, sang Karate Kid, sedikit melenceng.

    "Sebenarnya, karakter Smith sebagai murid Han di film itu, tidak sebagai karateka. Melainkan sebagai murid Kung Fu," kata Krumboltz. Sehingga asumsi "The Karate Kid" tidak sepenuhnya benar, karena bisa jadi Smith lebih cocok menjadi "The Kung Fu Kid" berdasarkan jalan ceritanya.

    Kontroversi minor itu pun segera diambilalih oleh para peselancar dunia maya disana. Mereka mencari tahu apa pebedaan serta kesamaan antara Karate dan Kung Fu. Setelah dicari tahu, ternyata letak perbedaannya ialah dari asal negara ilmu beladiri tersebut, serta teknik penerapannya.

    Jika Kung Fu lebih menekankan pada pergerakan sirkuler dalam mempertahankan diri serta menyerang musuh, Karate menerapkan pergerakan linier. Pada Kung Fu, teknik beladiri banyak berkaca dari gerakan binatang saat menyerang maupun mempertahankan diri. Sementara Karate lebih pada serangan ketimbang pertahanan diri.

    Namun kedua beladiri itu banyak memiliki kesamaan dalam tekniknya. Tak ayal dalam film itu banyak diperlihatkan latihan-latihan dasar sama pada dua jenis beladiri itu. Dalam dialog, Dre pun mengatakan pada ibunya bahwa dia ingin belajar beladiri. "It's not karate, Mom."

    YAHOO MOVIE | ANGIOLA HARRY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.