Wawancara Tempo dengan Jurubicara Israel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jurubicara Kementrian Luar Negeri Israel Yigal Palmor

    Jurubicara Kementrian Luar Negeri Israel Yigal Palmor

    TEMPO Interaktif, JAKARTA - Israel tetap berkeras tak akan membuka blokade atas Gaza meski atas dasar alasan kemanusiaan. Israel blokade dilakukan karena Hamas, faksi garis keras di Palestina, telah menyatakan perang terhadap Israel. "Karena itu, berdasarkan hukum internasional, Israel berhak melakukan blokade terhadap Gaza," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Yigal Palmor kepada Andree Priyanto via surat elektronik. 

    Sebelumnya Menteri Keuangan Israel Yuval Steinitz mengatakan banyak sekali blokade di seluruh dunia, tapi tak ada satu pun yang memicu penyelidikan internasional. Bukan cuma itu, Israel pun menolak usulan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan penyelidikan internasional atas serbuan Israel terhadap armada kapal bantuan untuk Gaza pekan lalu. Padahal pesan itu langsung disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon

    Bagaimana Anda menjelaskan kepada dunia atas serangan Israel ke kapal kemanusiaan?
    Konvoi (Armada Kebebasan) itu bukan konvoi damai. Itu adalah serangan teroris Islam. Saya tahu para perusuh di Marmara (Kapal Mavi Marmara, satu dari enam kapal yang ikut konvoi Freedom Fotilla atau Armada Kebebasan yang diserang Israel, Senin pekan lalu) pasti kecewa (karena tak berhasil menembus blokade laut Israel atas Gaza)... tapi kemudian mereka menjadi martir. (Menjadi Martir) itu kan yang mereka mau? (Ia merujuk artikel di Guardian yang berjudul: "Flotilla raid: Turkish jihadis bent on violence attacked troops, Israel claims"). Buktinya (kapal) Rachel Corrie bisa kami bawa ke Ashdod (pelabuhan di Israel) tanpa ada kekerasan atau korban yang luka. Mereka (awak Rachel Corrie) menolak berkompromi dengan kami, yang difasilitasi pemerintah Irlandia, tapi mereka tak melawan.

    Tapi mereka membawa bantuan kemanusiaan buat warga Gaza yang menderita karena wilayahnya Anda blokade?
    Situasi di Gaza itu seperti ini. Hamas adalah sekelompok organisasi yang dicap teroris oleh Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan lain-lainnya. Hamas berkuasa di Gaza setelah melakukan kudeta pada 2007 atas otoritas Palestina yang sah. Hamas melakukan pembantaian atas para pendukung otoritas Palestina. Kebijakan Hamas adalah menyerang Israel dan menolak segala bentuk negosiasi atau perdamaian (dengan Israel). Mereka juga berperang dengan Otoritas Palestina dan Mesir, yang juga menutup pintu perbatasannya dengan Gaza.

    Kalau memang Hamas adalah pokok permasalahannya, mengapa rakyat Gaza yang jadi korban?
    Dalam situasi seperti yang saya sebut tadi, yakni Hamas menyatakan perang terhadap Israel, maka berdasarkan hukum internasional, Israel berhak melakukan blokade.

    Jadi Israel tetap akan mengabaikan seruan dunia untuk membuka blokade atas Gaza?
    Begini, hukum internasional jelas-jelas mengizinkan Israel untuk melakukan blokade. Termasuk menyetop kapal-kapal yang menuju Gaza, sekalipun tengah berada di wilayah perairan internasional. Tindakan Israel (memblokade dan menyetop kapal-kapal pembawa bantuan) itu sesuai dengan pasal 67 (a), Manual San Remo pada Aplikasi Hukum Internasional untuk Konflik Bersenjata di Laut yang disahkan pada 12 Juni 1994. Pasal (67 a) itu mengizinkan Israel menyetop kapal-kapal yang berniat menembus blokade atas Gaza. Karena itu, tindakan Israel dalam mengepung Rachel Corrie (kapal ketujuh dalam Konvoi Kebebasan yang terakhir dihentikan Israel di perairan internasional) dan kapal-kapal (pembawa bantuan kemanusiaan lainnya) telah sesuai dengan hukum internasional. Bahkan sekalipun kapal-kapal itu tidak membawa senjata.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.