Aktivis: Israel Menyerang Kapal Tanpa Peringatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Israel mengarahkan senjatanya ke geladak kapal Turki Mervi Namara yang mengangkut bantuan menuju ke Jalur Gaza. AP/IHH via APTN

    Tentara Israel mengarahkan senjatanya ke geladak kapal Turki Mervi Namara yang mengangkut bantuan menuju ke Jalur Gaza. AP/IHH via APTN

    TEMPO Interaktif, Amman - Komando Angkatan Laut Israel menggunakan pentungan, gas air mata, granat kejut, peluru karet, dan peluru tajam saat  menyerang kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Demikian keterangan aktivis yang dideportasi Israel ke Yordania, Rabu (2/6).

    "Israel menyerang kami tanpa peringatan terlebih dahulu," kata Norazma Abdullah dari Malaysia, salah seorang dari 124 aktivis yang dideportasi ke Yordania sekitar pukul 7.30 pagi waktu setempat.

    "Mereka menembakkan beberapa peluru karet namun setelah itu menggunakan peluru tajam. Lima orang meninggal di tempat dan setelah itu kami menyerah," kata Abdullah yang berada dikapal Turki Mavi Marmara, tempat para korban berjatuhan.

    Abdullah berbicara kepada Reuters dekat jembatan sungai di Yordania, mengatakan pasukan komando Israel kemudian menahan para aktivis selama 15 jam hingga mereka tiba di pelabuhan Israel, Ashdod.

    Sembilan orang, Senin, dilaporkan tewas di atas enam konvoi kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Jalur Gaza dibawah blokade Israel.

    Israel mengatakan, para aktivis menyerang pasukan komando saat mereka memasuki teritorial dengan kapal Turki, pasukannya terpaksa menembak mereka untuk membela diri setelah para aktivis memukuli, menikam, dan merebut senjata pasukannya.

    Abdullah mengatakan armada kapal Turki berada di lebih kurang 68 mil laut atau 108 kilometer dari batas pantai Gaza ketika kapal tersebut diserang.

    "Rencana kami sebenarnya berhenti di sana dan meminta ijin Israel sebelum kami memasuki perairan jika mereka menolak, kami tinggal di atas laut untuk protes, tetapi mereka menyerang kami sebelum kami berubah pikiran," tambah Abdullah.

    Para aktivis dari berbagai negara yang disuir ke Yordania berasal dari Kuwait, Aljazair, Lebanon, Malaysia, dan Indonesia. Mereka di antara 682 orang yang ditahan Israel.

    Abdul Rahman Failakawee aktivis asal Kuwait mengatakan Israel menggunakan senjata tempur untuk melumpuhkan konvoi kapal.

    "Serangan secara keseluruhan barbar," katanya melalui telepon dari sebuah bus yang mengangkut para aktivis. "Mereka menggunakan senjata yang diperbolehkan dan mungkin tak diperbolehkan yaitu peluru karet, peluru tajam, bom gas mata. Mereka juga menggunakan pentungan saat mereka mendarat untuk menguasai kapal."

    Uskup Agung Hilarian Capucci, seorang uskup Gereja Katolik Yunani dari Yerusalem yang dipenjara Israel 1974 dan akhirnya dideportasi, mengatakan serangan marinir tak memiliki dasar.

    "Perjalanan kami ke Gaza adalah perjalan kasih dan Tuhan bersama kami. Tindakan brutal Israel terhadap orang-orang yang membawa kasih kepada masyarakat yang dikepung mengundang kecaman dunia."


    REUTERS | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?