Naiknya Ketegangan Setelah Korea Selatan Tuding Utara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis konservatif Korea Selatan merobek bendera Korea Utara di depan Departemen Pertahanan di Seoul, Korea Selatan (20/5). AP/Ahn muda-Joon

    Aktivis konservatif Korea Selatan merobek bendera Korea Utara di depan Departemen Pertahanan di Seoul, Korea Selatan (20/5). AP/Ahn muda-Joon

    TEMPO Interaktif, Seoul - Korea Selatan hari ini menuduh Korea Utara yang tertutup mentorpedo salah satu kapal perangnya, menaikkan tensi di semenanjung itu dan menguji posisi internasional Cina, satu-satunya pendukung utama Pyongyang.

    Korea Selatan, mengatakan bakal melakukan langkah-langkah “tegas” terhadap tetangganya yang miskin itu, yang langsung menanggapi bahwa mereka siap berperang jika Seoul atau sekutunya memberlakukan sanksi-sanksi lagi.

    Sebuah laporan oleh para penyelidik, termasuk ahli dari Amerika Serikat, Australia, Inggris dan Swedia, menyimpulkan bahwa kapal selam dari Korea Utara telah menembakkan torpedo yang menenggelamkan korvet Cheonan pada Maret yang menewaskan 46 pelautnya. "Tidak ada yang lain penjelasan yang masuk akal," sebut laporan tersebut.

    Pasar-pasar finansial di Seoul menunjukkan reaksi kecil atas temuan dari laporan yang telah lama dinantikan, namun masih melihat dengan hati-hati atas setiap eskalasi ketegangan insiden itu.

    “Kuncinya adalah langkah-langkah seperti apa Korea Selatan akan ambil dan bagaimana Korea Utara akan bereaksi kepada mereka," ujar Choi Seong-lak, analis di SK Securities. "Jika menjadi kekerasan, hal itu akan mempengaruhi investor asing, tapi untuk saat ini dampak dari hasil itu masih terbatas."

    Kecaman internasional langsung bermunculan, dengan pengecualian di Cina, yang oleh analis katakan sangat ingin menghindari apapun tindakan yang bisa mendestabilisasi tetangga sebelah yang tertutup dan menyebabkan insiden yang tumpah ke wilayahnya.


    Reuters/BBC/dwi arjanto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.