Pemimpin Militer Thailand Mulai Berbeda Sikap dengan Perdana Menteri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jenderal Anupong Paojinda

    Jenderal Anupong Paojinda

    TEMPO Interaktif, Bangkok -Pemimpin militer Thailand Jenderal Anupong Paojinda berbeda sikap dengan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva soal penanganan pasca lewatnya tenggat waktu untuk demonstran. Lima ribu demonstran dari Kaus Merah tetap berkumpul di kawasan Ratchaprasong, Bangkok, kendati pemerintah mengultimatum agar pengunjuk rasa, terutama para ibu dan anak-anak, meninggalkan kawasan itu paling lambat pukul 15.00 kemarin sebelum “dibersihkan” militer.

    Sumber di Pusat Resolusi Situasi Darurat (CRES) menyebutkan Abhisit meminta operasi militer diintensifkan untuk  mengakhiri perampasan wilayah oleh Kaus Merah di kawasan perbelanjaan Ratchaprasong, Bangkok pusat. Perdana Menterimendorong komandan mempercepat persiapan mereka untuk merebut kembali tempat protes itu Selasa ini.

    Namun, Jenderal Anupong berbeda pendapat. Anupong tidak mau aparat keamanan harus buru-buru dikerahkan karena ia prihatin tentang risiko korban di antara pasukan dan demonstran. "Ketika kita sudah siap, kita akan mencapai tujuan akhir kita di persimpangan Ratchaprasong. Tapi sekarang, masih ada risiko tinggi banyak korban," kata sumber CRES mengutip Anupong.

    Perbedaan sikap Anupong itu mengkonfirmasi tentang kemungkinan penangguhan penyerbuan demonstran hari ini. Pemerintah menyatakan Senin dan Selasa ini sebagai hari libur nasional. Sebagian besar pengunjuk rasa yang tersisa, termasuk anak-anak, perempuan dan orang tua, telah memutuskan menolak meninggalkan lokasi protes.

    Pernyataan Anupong ini menjawab pertanyaan media Thailand selama ini. Sebagai panglima tertinggi angkatan darat dan sekaligus penanggungjawab keamanan Thailand, Anupong sama sekali belum berkomentar sejak bentrok berdarah terjadi Kamis pekan lalu. Sudah 37 tewas dan 291 terluka, 14 di antaranya dalam kondisi kritis.

    Pemimpin Kaus Merah Natthawut Saikua mendesak perdana menteri untuk tidak mengesampingkan pembicaraan damai dengan para demonstran meskipun negosiasi sebelumnya tak membuahkan hasil.

    "Abhisit mengatakan tak akan mengesampingkan pembicaraan berdasarkan fakta meski pembicaraan pada putaran sebelumnya gagal," katanya. "Meski memerlukan waktu, saya percaya itu lebih baik daripada membiarkan pembunuhan berlanjut."

    Kaus Merah akan menunggu jawaban dari Perserikatan Bangsa-Bangsa Selasa ini. Kelompok ini meminta PBB bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan damai dengan pemerintah. Mantan perdana menteri terguling Thaksin Shinawatra, dalam sebuah pernyataan, juga mendesak PBB agar langkah untuk mengatasi krisis. Namun Abhisit dilaporkan menolak campur tangan asing dalam setiap pembicaraan dengan pemimpin Kaus Merah.

    Korbsak Sabhavasu, sekretaris jenderal pada kantor Perdana Menteri Thailand, menegaskan perpanjangan negosiasi tak akan pernah terjadi sampai para demonstran bubar. "Negosiasi dapat terjadi jika protes berhenti dan pemimpin mereka menyerah. Pemimpin mereka harus menghentikan kerusuhan dan pembakaran kota," kata Korbsak.

    Bangkok Post | YR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.