Demonstran Tantang Ultimatum Pemerintah Thailand

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jumat berdarah

    Jumat berdarah

    TEMPO Interaktif, Bangkok -Ribuan demonstran dari kelompok Kaus Merah mengabaikan tenggat waktu yang ditetapkan pemerintah Thailand kemarin sore. Mereka tetap berkumpul di kawasan Ratchaprasong, Bangkok, kendati pemerintah mengultimatum agar pengunjuk rasa, terutama para ibu dan anak-anak, meninggalkan kawasan itu paling lambat pukul 15.00 kemarin sebelum “dibersihkan” militer.

    “Kami akan tetap berjuang,” kata pemimpin Kaus Merah, Jatuporn Prompan, seusai mengumumkan kematian Mayor Jenderal Khattiya Sawasdipol, pemimpin radikal demonstran, yang meninggal karena ditembak sniper Kamis pekan lalu. Sampai tadi malam, para ibu dan anak-anak remaja masih tampak membantu mengangkat bambu dan ban, membangun benteng pertahanan demonstran.

    Sebagian besar pengunjuk rasa merupakan warga miskin di pedesaan kawasan utara Thailand yang merupakan pendukung pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang dijatuhkan lewat kudeta empat tahun lalu. Mereka berdemonstrasi sejak pertengahan Maret lalu menuntut Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva membubarkan parlemen dan menggelar pemilu secepatnya.

    Bentrokan berdarah pecah sejak Kamis pekan lalu dan telah menewaskan 36 orang, melukai 252 orang, termasuk enam warga asing. Korban pertama dari pihak militer jatuh Minggu malam lalu di kawasan Hotel Dusit Thani, di seberang Ratchaprasong. Para tamu hotel ini diungsikan dari kamar ke ruangan bawah tanah setelah baku tembak dan ledakan mengguncang kawasan itu.

    Juru bicara polisi Mayor Jenderal Prawut Thawornsiri mengatakan masih ada 5.000 pengunjuk rasa yang bertahan setelah tenggat berakhir. Sebelumnya helikopter militer menjatuhkan selebaran di kamp demonstran yang berisi desakan agar mereka segera pergi. Selebaran itu membangkitkan kemarahan para pemrotes yang langsung bereaksi dengan menembakkan roket buatan sendiri pada helikopter yang lewat.

    Juru bicara pemerintah, Panitan Wattanayagorn, mengatakan Pusat Resolusi Situasi Darurat (CRES), yang memutuskan setiap langkah pemerintah, kemarin petang membahas langkah-langkah merebut kembali wilayah yang diduduki setelah tenggat dilewati. “Prioritas pemerintah adalah mengevakuasi anak-anak dan orang tua,” kata Panitan yang menolak merinci detail rencana militer.

    Dari pengasingan, Thaksin menyerukan agar dialog digelar kembali. ”Saya melihat gambar-gambar yang melampaui mimpi buruk mana pun, yang sungguh mengerikan dalam sejarah kita. Saya tak punya pilihan lain selain meminta semua pihak mundur dan berusaha memulai dialog baru dan tulus,” katanya kemarin. Keluarga Thaksin sendiri telah meninggalkan Thailand sejak Jumat lalu menuju Singapura dan Cina.

    Pemimpin Kaus Merah Natthawut Saikua menyatakan bersedia berdialog kembali asalkan ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tentara menghentikan menembak warga tak bersalah. Sebaliknya Abhisit menolak masuknya setiap campur tangan asing dalam memecahkan konflik dalam negeri. Abhisit mengumumkan Senin dan Selasa sebagai hari libur nasional dan menunda masuknya sekolah-sekolah di Bangkok.

    Selain di Ratchaprasong, kemarin bentrokan berpusat di Din Daeng, Bon Kai, dan Sala Daeng. Protes juga melebar hingga ke luar Bangkok. Dilaporkan, sebuah bus militer dibakar dan dua ATM bank dibom di kota Chiang Mai.

    Bangkok Post | BBC | YR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.