Kandidat Presiden Filipina Noynoy Aquino Tak Tertandingi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Benigno 'Noynoy' Aquino III. REUTERS

    Benigno 'Noynoy' Aquino III. REUTERS

    TEMPO Interaktif, Manila -Senator Benigno "Noynoy" Aquino tak terdandingi lagi. Kandidat Presiden Filipina ini diklaim akan memenangi pemilihan umum pada 10 Mei mendatang dengan meraup suara terbanyak. Hal itu dikatakan Direktur Institut Reformasi Politik dan Pemilu Ramon Casiple.

    "Rakyat butuh figur yang bisa dipercaya untuk membersihkan kekacauan yang ditinggalkan (Presiden Filipina Gloria Macapagal) Arroyo," ujarnya. Karena itu, kata dia, tak mengherankan apabila dalam sejumlah jajak pendapat nama putra bekas mendiang Presiden Corazon Aquino itu berada dalam peringkat teratas di antara para pesaingnya.

    Jajak pendapat yang digelar Pulse Asia, misalnya, menyebutkan bahwa Noynoy didukung sekitar 39 persen suara responden. Urutan kedua dengan dukungan 20 persen suara ditempati bekas presiden Joseph Estrada dan konglomerat Manny Villar. Menanggapi hasil survei itu, Estrada, yang dilengserkan karena kasus korupsi pada 2001, mengaku tak gentar.

    "Mereka (para pesaingnya) akan terkaget-kaget," kata Estrada, 73 tahun. Adapun Villar mengatakan kemampuannya mengelola mesin politik di seantero negeri tak bisa dipandang sebelah mata. Kendati begitu, menurut Casiple, pamor Aquino sebagai pahlawan demokrasi setelah menumbangkan rezim Presiden Ferdinand Marcos sulit dicari tandingannya.

    Noynoy sendiri dalam kampanyenya berulang kali berjanji akan memerangi korupsi dan membersihkan kasus-kasus korupsi yang membelit Filipina dalam sembilan tahun masa kepemimpinan Arroyo. Bahkan tak segan-segan ia mengancam akan memeriksa keluarga Arroyo bila terbukti tersangkut korupsi.

    PHILSTAR | INQUIRY | ANDREE PRIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.