Wawancara Profesor Hans Kung: Paus Benediktus Mesti Bertanggung Jawab

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hans Kung, teologian, Jakarta, Selasa (27/04).TEMPO/Yosep Arkian

    Hans Kung, teologian, Jakarta, Selasa (27/04).TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Ingatannya kuat dan bicaranya lantang. Dialah Romo Hans Kung, pastor berumur 82 tahun yang dikenal berseberangan dengan Gereja Katolik Roma. Hingga hari ini, ia tetap menjadi kritikus yang gigih terhadap kewibawaan Paus, yang disebutnya sebagai ciptaan manusia dan bukan sesuatu yang ditetapkan oleh Allah.

    Lewat bukunya, Infallible? An Inquiry, Kung menolak doktrin Infallible Paus. Karena itu, izin mengajarnya sebagai seorang teolog utusan Vatikan dicabut. Meski begitu, Profesor Kung tetap mengajar teologi ekumenis di Universitas Tübingen, Jerman, hingga pensiun pada 1996. Ia pun tetap menjadi seorang imam Katolik Roma.

    "Saya dikaruniai akal-pikiran, dan atas restu Tuhan, saya diberikan keberanian dan kekuatan untuk bicara, maka saya harus bicara meskipun itu pahit," katanya kepada TEMPO di Jakarta, Senin lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Paus Benediktus mesti bertanggung jawab atas skandal pelecehan seks di sejumlah gereja di dunia.

    Kung dan Paus Benediktus sejatinya adalah kawan lama. Pada 1962, Kung dan Kardinal Josep Ratzinger (Paus Benediktus XVI) diangkat menjadi peritus oleh Paus Yohanes XXIII. Keduanya bertugas sebagai penasihat ahli teologi bagi para anggota dari Konsili Vatikan II hingga selesai pada 1965.

    "Anda tahu kami memiliki pandangan yang berbeda," ujarnya menanggapi hubungan yang tak sedap selama ini dengan Takhta Suci Vatikan. Namun, pada 2005, keduanya terlibat dalam suatu diskusi bersahabat tentang teologi Katolik dalam sebuah makan malam bersama, sesuatu yang mengejutkan sejumlah pengamat.

    Apa saja yang dibicarakan dengan Paus Benediktus? Lalu apakah hubungan yang telah pulih itu kini bercerai lagi setelah ia mendesak Paus bertanggung jawab atas skandal seks yang melibatkan para penginjil itu? Kepada Andree Priyanto, Idrus F. Sahab, Sapto Pradityo, dan Adek Media serta pewarta foto Yoseph Arkian dari TEMPO, Presiden Yayasan Etika Global—yang mengkampanyekan kesamaan di antara agama-agama dunia—ini bicara blak-blakan.

    Kepada media asing Anda mengatakan bahwa Paus mesti bertanggung jawab atas kasus pelecehan seksual, mengapa?

    Menurut saya, Paus harus bertanggung jawab. Dia bertanggung jawab atas kasus pelecehan seksual yang terjadi di gereja karena dia berupaya menutupinya. Lagi pula tak adil kalau Paus menyalahkan Uskup Irlandia, yang tentu saja menutupi hal ini atas perintah Paus.

    Karena itu, menurut saya, penting untuk menyelidiki hal ini dan saya berutang kepada berjuta-juta umat Katolik untuk bicara hal ini. Karena sudah menjadi budaya para uskup tak diperkenankan bicara secara terbuka tak terkecuali Uskup Irlandia yang tentu saja tak akan bilang, "Well, siapa yang mesti bertanggung jawab atas apa yang kami patuhi? Andalah yang bertanggung jawab, Bapa Suci."

    Karena tak ada yang berani bicara bebas dalam posisi itu, saya sebagai warga Swedia yang bebas dan terpelajar tentu saja bebas bicara secara terbuka. Saya percaya ini tugas saya untuk bicara. Ini adalah tanggung jawab saya untuk bicara. Saya punya pelbagai kemungkinan untuk bicara. Saya dikaruniai akal-pikiran, dan atas restu Tuhan, saya diberikan keberanian dan kekuatan untuk bicara, maka saya harus bicara meskipun itu pahit dan saya sudah menunggu cukup lama. Asal Anda tahu, saya sudah menunggu selama lima tahun, dan saya pikir inilah saat yang tepat bagi saya untuk bicara.

    Apa akar masalahnya?

    Sebenarnya selibat itu bukan satu-satunya penyebab kesalahan yang bermuara pada skandal pelecehan ini. Hal paling penting dan struktural yang paling menentukan ekspresi kecurigaan gereja terhadap seks. Kalau Anda lihat dalam Perjanjian Baru, Yesus dan Rasul Paulus melakukan selibat, tapi mereka tetap memberi kebebasan penuh kepada tiap-tiap individu untuk memilih melakukan selibat atau menikah.

    Jadi, apa solusinya?

    Sederhana saja, hapus hukum selibat, yang merupakan akar dari segala kejahatan ini, dan terima pengakuan dari wanita untuk pentahbisan. Para uskup tahu hal ini, tapi mereka tak punya cukup keberanian untuk mengatakan kepada publik. Setiap orang setuju bahwa aturan selibat hanyalah sebuah hukum gereja yang berasal dari abad ke-11 dan bukan suatu perintah Ilahi.

    Apa komentar Paus?

    Tentu saja dia tak suka. Tapi tak apa, buat saya masyarakat gereja lebih penting daripada Paus. Saya tetap berada di lingkungan gereja Katolik semata karena berkomitmen kepada umat dan mereka yang beriman. Bukan karena hierarki dan lagi pula ini tak sejalan sebagaimana diwasiatkan dalam Perjanjian Baru. Kalau Anda baca Perjanjian Baru, di situ jelas sekali disebutkan bahwa Yesus ingin melayani umat manusia. Karena itu, Paus sendiri bergelar Servus Servorum Dei (Pelayan Para Pelayan Ilahi).

    Sesungguhnya apa sih motivasi Anda?

    Saya hanya ingin bicara jujur dan bukan membuat skandal. Jika Anda merasa ini akan disalahpahami, abaikan saja, karena tak akan ada gunanya. Orang perlu mengetahui kebenaran, tapi kalau kebenaran itu disalahartikan, itu berbahaya.

    Apakah penyebabnya kepemimpinan tunggal di gereja Katolik?

    Ya. Kekuasaan tunggal yang diperkenalkan di Abad ke-11. Sampai saat ini kekuasaan tunggal itu masih dipakai oleh Kardinal Joseph Ratzinger (Paus Benediktus), memusatkan semua kasus pelecehan dalam dewan kepausan untuk doktrin iman atas isu ini.

    Paus juga telah menulis surat, lebih dari sekali surat kepausan, yang menekankan kerahasiaan tertinggi (highest secrecy) di mana atas nama keyakinan, Anda dilarang berbicara ke luar dan karena masalah-masalah ini ada di dalam sistem yang menurut saya bukan sistem yang baik. Seperti yang saya katakan, kita punya sistem Katolik Roma berumur ribuan tahun yang terpusat pada Kuria Romawi dan radikal dan selibat yang tak sesuai dengan hukum.

    Semua konsesi dari semua ini berdampak pada paradigma. Tapi tak sukses dalam melawan Kuria Romawi, yang memiliki kontrol atas dewan. Itu sebabnya muncul kesulitan karena uskup tak lagi bisa memutuskan sesuatu. Masalah yang mendalam ini bukan hanya karena ketiga hal itu, tapi juga karena sistem yang sudah tak lagi bisa diadaptasi gereja yang memiliki lebih dari satu miliar pengikut di seluruh dunia. Mustahil sekali satu orang bisa memutuskan apakah sekarang seorang pastor boleh menikah atau tidak.

    Itu sebabnya mengapa masalah tradisional hanya ada di gereja Katolik saja?

    Tentu saja Anda tak bisa terlalu memojokkan gereja Katolik. Saya kira semua agama punya masalah dengan abad pertengahan. Islam juga punya orang-orang yang hidup dalam paradigma abad pertengahan. Mereka mengusung idiologi yang hidup pada masa-masa itu. Mereka mengadopsi hukum-hukum abad pertengahan itu, seperti konsep hukum syariah, yang sama dengan Hukum Kanon Gereja. Jadi, hemat saya, Islam dan Katolik Roma punya masalah yang sama yang harus mereka hadapi dan menjunjung kekuatan abad pertengahan dalam konteks abad modern ini. Jadi tak adil kalau hanya menyalahkan gereja Katolik. Untungnya Islam tak punya hukum selibat.

    Kami tak pernah melihat ada radikalisasi di gereja....

    Saya kira tak sepenuhnya benar. Apa yang kami punya tradisionalis. Paus Benediktus adalah seorang tradisionalis. Ketika di Universitas Eberhard Karls, Tübingen, Jerman, saya pernah menjabat Dekan Fakultas Katolik dan saya mengusulkan kepada Dewan Dosen Katolik di Tübingen untuk mengangkat Kardinal Ratzinger sebagai profesor dogmatika.

    Ia awalnya seorang teolog yang terbuka. Tapi, ketika ada fenomena Marxis, ia menjadi semakin konservatif dan sekarang ia menjadi semakin tradisionalis—melindungi secara ketat prinsip-prinsip kepausan. Dia adalah seorang pengkritik homoseksualitas, pernikahan kelamin sejenis, euthanasia, dan aborsi. Saya mesti mengatakan bahwa kami tak punya revolusionaris, barangkali Anda bisa melihat teologi pembebasan yang kerap dicap Marxis meski itu tak benar. Karena mereka masih mempercayai Tuhan dan anti-kekerasan, jadi mereka bukan revolusioner sejati.

    Anda senantiasa membandingkan Paus Yohannes II dengan Paus Benediktus?

    Paus Johannes itu kharismatis dan bintang media. Paus Benediktus bukan bintang media massa, dan dia seorang terpelajar. Paus Johannes simpatik, jantan, dan tak peduli terhadap teori, tapi ke dalam (Takhta Suci Vatikan), dia seorang yang otoriter. Faktanya, ia mengangkat Ratzinger sebagai Dekan Kolegium Dewan Kardinal yang dalam satu dekade ini bertanggung jawab atas apa yang terjadi belakangan ini. Saya berharap Paus Benediktus cukup cerdas untuk mengoreksi ucapannya soal kondom—Paus Benediktus pernah mengatakan bahwa kondom bukanlah solusi mencegah penyebaran AIDS. Menurut dia, semua kembali pada keyakinan agama, yang merupakan benteng terbaik agar terhindar dari penyakit mematikan itu—di Afrika, yang punya masalah AIDS, saya kira akan sulit dipahami. Di sini, saya kira, kami perlu mengoreksi sikap kami bahwa melarang pemakaian kontrasepsi dan kondom bukanlah sikap seorang kristiani yang baik. Sebagaimana juga dalam isu selibat.

    Anda bertemu dengan Paus pada 2005, apakah ini upaya rekonsiliasi?

    Seperti yang Anda tahu, kami memiliki pandangan yang berbeda. Dia pemimpin Takhta Suci Vatikan, dia pernah menjadi Kuria Romawi, Kepala Kongregasi Doktrin Keimanan, dan saya sendiri pengusung teologi pembebasan. Saya menulis surat kepadanya setelah ia terpilih menjadi paus bahwa ada baiknya kita bertemu untuk bicara serius dan bukan sekadar basa-basi seremonial. Paus setuju dan kami bertemu di tempat peristirahatan paus di pegunungan Albania. Kami berbicara dari hati ke hati selama empat jam. Saya dijamu dengan baik. Awalnya kami bertemu di kantornya, lalu kami berjalan ke taman, dan kemudian makan malam bersama. Saya sungguh senang.

    Saya berharap ia bicara terbuka. Sebelumnya, lewat surat, saya katakan bahwa kami tak perlu bicara soal reformasi di mana kita punya perbedaan mendasar, seperti selibat, dan lainnya yang mana kami pasti bertolak belakang. Maka saya bilang, ada baiknya kita bicara ke depan, seperti keyakinan, diskusi keagamaan, dan etika global. Itulah yang kami bicarakan. Saya senang Paus menerima buku saya, A Beginning of All Things, yang merupakan bunga rangkai tentang asal usul kosmos, asal usul kehidupan, asal usul manusia, teori evolusi manusia, dan lain-lain. Dia bilang bahwa bunga rampai ini sangat luar biasa, dan kami sepakat soal ini semua.

    Kedua, kami juga sepakat akan pentingnya dialog antaragama. Kami bicara soal Islam dan lain-lain, dan Sri Paus begitu senang. Ketiga ia sangat antusias terhadap etika global, ia bilang penting untuk memiliki standar etika bagi semua agama. Ketika saya bilang bahwa tak cuma mereka yang beragama yang perlu standar etika, ia bilang tentu saja. Jadi kami sepakat. Malah kami dulu bersama-sama merumuskan adanya komunike bersama yang bersejarah dalam Gereja Katolik Roma. Anda lihat pembicaraan kami sangat positif.

    Bagaimana kelanjutannya setelah itu? Apakah hubungan Anda dengan Roma pulih?

    Setelah pertemuan itu, kami kerap bertukar surat. Saya kirimi beliau artikel-artikel saya yang diterbitkan. Tentu saja beberapa hal mengkritik kebijakan gereja Roma, tapi beliau tetap menanggapi dengan positif. Situasinya menjadi sulit buat saya dan kebanyakan umat Katolik ketika ia menerima empat uskup di gereja yang tak punya legitimasi. Mereka, para uskup ini, tak hanya berada di luar gereja, tapi juga anti-Yahudi dan anti-Islam. Malah salah satunya menyangkal adanya Holocaust-genosida atau pembasmian etnis Yahudi selama Perang Dunia II.

    Secara keseluruhan mereka menentang hubungan antaragama, mereka menentang Konsili Ekumenis Vatikan Kedua—yang membawa perubahan pada Gereja Katolik Roma pada 1962-1965—kebebasan beragama, liturgi (ibadah) baru, dan lain-lain. Karena itu, saya bilang kepada Paus mengapa bisa ia menerima orang-orang sejenis itu. Paus merasa amat tercoreng oleh tudingan para ahli agama. Para ahli agama menyesalkan Paus karena mereka menganggap ia tak cukup ortodoks, tapi malah menerima orang-orang yang menyangkal Konsili Ekumenis Vatikan Kedua. Padahal Konsili Ekumenis Vatikan Kedua adalah otoritas tertinggi Gereja Katolik Roma, yang bahkan Paus pun tak bisa menentangnya. Kedua dalam soal kejahatan seksual, yang menurut saya Paus harus bertanggung jawab

    ANDREE PRIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.