Misi Mitchell di Palestina Gagal Lagi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah aktivis berlari menghindari gas air mata yang dilemparkan polisi Israel saat peringatan 5 tahun kampanye penolakan perbatasan yang dibangun oleh Israel  di Tepi Barat, Jumat (19/02). REUTERS/Darren Whiteside

    Sejumlah aktivis berlari menghindari gas air mata yang dilemparkan polisi Israel saat peringatan 5 tahun kampanye penolakan perbatasan yang dibangun oleh Israel di Tepi Barat, Jumat (19/02). REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO Interaktif, Ramallah -Sudah dua tahun terakhir, sejak ditunjuk oleh Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama, George Mitchell bolak-balik ke Timur Tengah. Sebagai utusan khusus untuk kawasan bergolak itu, ia dibebani misi yang boleh dikatakan hampir tidak mungkin: mendamaikan Palestina dan Israel.

    Lawatan pekan lalu itu pun kembali membentur tembok. Pertemuan Mitchell dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas di Ramallah dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak mampu menghidupkan lagi perundingan damai yang telah mandek tiga tahun.

    Kedua pemimpin bertikai itu tetap pada posisi masing-masing. Netanyahu, dari Partai Likud yang berhaluan keras, bersedia balik lagi ke meja perundingan dengan proyek permukiman Yahudi di Yerusalem Timur jalan terus. Namun Abbas menuntut penghentian pembangunan rumah bagi warga Yahudi sebagai syarat melanjutkan lagi pembicaraan damai.

    Mungkin saja Mitchell sudah sadar jauh-jauh hari misi ulang-aliknya yang mutakhir akan mentok lagi. Meski begitu, ia berencana melawat lagi pekan depan untuk membuka gembok antara Palestina dan Israel. "Saya akan melanjutkan upaya kami untuk mencapai perdamaian dan keamanan menyeluruh di kawasan, termasuk penyelesaian dua negara," kata Mitchell.

    Sikap keras kepala Netanyahu ini pula yang mengakibatkan hubungan Israel dan Amerika memanas. Obama yang berambisi menciptakan sejarah berdirinya negara Palestina merdeka menuntut pemimpin dari Partai Likud itu segera menghentikan proyek permukiman di Yerusalem Timur.

    Namun Netanyahu malah menantang. Ia mengumumkan pembangunan 1.600 rumah baru tepat saat Wakil Presiden Amerika Jor Biden berkunjung ke Timur Tengah. Bahkan berkali-kali pula ia menegaskan bahwa proyek permukiman di Yerusalem Timur tidak akan dibekukan.

    Ketua juru runding Palestina, Saeb Erekat, sangat gusar atas pendirian Netanyahu itu. "Ini sebuah formula untuk menciptakan bencana bukan perdamaian. Ini resep bagi permusuhan dan perang, bukan untuk berdamai," ia menegaskan.

    Yerusalem Timur akan terus menjadi ganjalan dalam konflik Palestina dan Israel. Bangsa Palestina akan terus menuntut kota suci itu sebagai ibu kota masa depan mereka lantaran pertimbangan sejarah, agama, dan ekonomi. Tiga alasan itu pula yang membuat Israel tidak mau melepas Yerusalem Timur.
    Dua isu penting yang bakal terus mementahkan dialog adalah pemulangan pengungsi Palestina dan perbatasan kedua negara nantinya.

    Haaretz | Times Newsline | Faisal Assegaf


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.