Alamak, Pria Ini Menyeka Pantatnya dengan Bendera Prancis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • .

    .

    TEMPO Interaktif, Paris -Menteri Kehakiman Prancis Michel Alliot-Marie meminta agar seorang pria yang terlihat dalam foto sedang menyeka pantatnya dengan bendera Prancis ditangkap. Dia mengatakan tindakan pria yang menghina bendera tiga warna tersebut tidak bisa diterima dan menyerukan menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab.

    Tanggapan Menteri Kehakiman itu dikeluarkan setelah foto pria itu dipajang dalam sebuah lomba foto yang diadakan oleh perusahaan media, FNAC.
    Foto diambil di sebuah jalan dan menunjukkan gambar seorang pria dari sisi belakang. Celananya dalam posisi turun di sekitar tumit dan dia tampak sedang menyeka pantatnya dengan bendera Prancis.

    Foto ini sempat dimuat di harian Metro, sebuah harian nasional gratis, dan segera ditarik dari arena lomba di Nice setelah dipotes oleh sejumlah kelompok veteran. "Begitu kami tahu bahwa masyarakat terkejut melihat foto ini, kami segera menariknya dari daftar para pemenang atas persetujuan juru fotonya, dan kami belum memamerkannya," kata juru bicara FNAC.

    Di Prancis, menghina bendera di luar acara resmi tidak bisa ditindak. Wartawan BBC di Paris Hugh Schofield melaporkan bahwa pemerintah turun tangan setelah diberitahu oleh seorang anggota parlemen daerah.

    Namun berdasarkan undang-undang Prancis, suatu tindakan yang melibatkan bendera nasional baru dianggap melanggar peraturan bila terjadi dalam acara yang diadakan oleh pemerintah, bukan dalam acara kebudayaan seperti ini, tambah Hugh Schofield.

    Menteri Kehakiman Prancis Michel Alliot-Marie mengatakan dalam kasus ini peraturan yang ada harus diubah. "Bila peraturan yang ada tidak lengkap dalam masalah ini, maka peraturan itu harus direvisi," kata juru bicara Kementerian Kehakiman.

    BBC | YR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.