Negara-negara Sahara Bersatu Melawan Al-Qaidah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Empat negara di padang pasir Sahara bergabung dalam satu komando markas besar di Aljazair selatan untuk melawan ancaman al-Qaidah. Demikian pernyataan menteri pertahanan Aljazair.

    Markas besar komando tersebut terdiri dari Aljazair, Mali, Mauritania, dan Nigeria akan bermarkas di Tamanrasset, sekitar 200 kilometer selatan ibu kota Aljazair, ungkapnya.

    Pengumuman pembentukan ini disampaikan Rabu menyusul pertemuan bulan lalu yang dihadiri oleh sejumlah pejabat senior pemerintah dan dipuji Amerika Serikat sebagai sebuah langkah maju melawam al-Qaidah.

    Negara-negara Barat mengatakan, jika pemerintah kawasan ini tidak bergabung melawan al-Qaidah, maka Sahara bisa menjadi surga yang aman bagi "teroris" seperti Yaman dan Somalia.

    Menteri pertahanan tidak memberikan detail tentang seberapa besar kekuatan yang dimiliki markas besar

    Namun seorang sumber militer senior di Nigeria mengatakan negara-negara Sahara telah memutuskan bertekad bergabung dalam operasi melawan al-Qaidah.

    "Kami telah memutuskan memperkuat intelijen kami bekerjasama melawan semua bentuk-bentuk ketidaknyamanan. Di samping itu, bergabung dalam operasi militer melawan terorisme, penculikan, serta perdagangan narkoba dan senjata," jelas sumber tersebut.

    Mohamed ben-Madani, editor Magreb Review berbasis di London mengatakan, ini tidak mudah bagi polisi setempat yang biasa disebut kawasan Maghribi.

    Para ahli pertahanan mengatakan, kerjasama regional ini sangat baik untuk mengunci para pejuang al-Qaidah di Sahara karena mereka kerap menghindari penangkapan dengan cara menyelinap dari satu negara ke negara lain.

    Kerjasama lebih besar bisa juga dimaksudkan untuk memperbesar peran Aljazair di bidang ekonomi dan kekuatan militer.

    Para pejuang al-Qaidah, tahun lalu, membunuh warga Inggris Edwin Dyer yang diculik di perbatasan antara Nigeria dengan Mali.

    Mereka juga menembak mati pekerja sosial Amerika Serikat di ibu kota Mauritania Juni lalu dan melakukan bom bunuh diri di kedutaan besar Perancis di sana Agustus yang melukai tiga orang.

    Dua warga Spanyol dipercaya ditahan al-Qaidah setelah mereka hilang November tahun lalu saat melakukan kegiatan kemanusiaan di Mauritania.

    Sementara pasangan suami istri warga Italia yang ditahan di Mauritania tahun lalu dibebaskan setelah ditahan selama tiga hari di Mali.

    Keberhasilan markas besar komando akan tergantung bagaimana pemerintah regional menghindari konflik dan persaingan di masa lalu, kata pengamat pertahanan Aljazair.

    AL JAZEERA | CHOIRUL



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.