Kawin Muda Populer di Jalur Gaza

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah model asal Palestina bersiap sebelum tampil dalam sebuah peragaan busana di Jerusalem, Kamis (17/12).  AP Photo/Tara Todras-Whitehill

    Sejumlah model asal Palestina bersiap sebelum tampil dalam sebuah peragaan busana di Jerusalem, Kamis (17/12). AP Photo/Tara Todras-Whitehill

    TEMPO Interaktif, Gaza -Bagi sebagian orang, kawin muda memang mengasyikkan. Sampai-sampai ada yang bilang pacaran paling enak jika telah menikah. Tidak perlu takut pulang kemalaman atau jadi omongan orang.

    Namun menikah dini seolah menjadi kebutuhan di Jalur Gaza. Maklum, situasi di sana makin memburuk sejak Israel memblokade wilayah itu tiga tahun lalu. Selain apa-apa sulit diperoleh, serangan-serangan udara negara Zionis membuat keadaan makin mencekam.

    Inilah yang dirasakan para perempuan di Gaza. Mereka harus buru-buru mencari pendamping hidup untuk menemani dalam rasa takut. Ditambah lagi gempuran jet-jet tempur Israel dikhawatirkan dapat menghabisi persediaan perjaka di wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta itu.

    Menurut Direktur Komite Urusan Teknis Wanita (WATC) cabang Gaza, Nadia Abu Nahla, angka pernikahan dini di Gaza melesat menjadi 45 persen pada 2008. Padahal tiga tahun sebelumnya hanya 34 persen. "Kenaikan ini lantaran situasi politik dan ekonomi yang buruk, juga disebabkan tak adanya hukum," katanya.

    Namun ada juga alasan pribadi untuk memutuskan kawin muda, seperti pengalaman, emosi, keyakinan agama, dan tradisi. Bagi kaum lelaki, melepas masa lajang sedini mungkin untuk memastikan calon istri mereka masih perawan.

    Pihak orang tua juga berpikir, makin muda menikah, maka cepat punya anak dan memiliki banyak waktu mengurus mereka. Seperti kata Khadir Dahnun, 68 tahun, ayah 10 anak dari Bait Lahiya, utara Jalur Gaza. Salah satu putranya bahkan menikahi gadis 15 tahun.

    Sayangnya, setelah delapan bulan kawin, sang menantu belum juga hamil. Dahnun mengeluarkan ancaman secara halus. "Ketika sebuah pohon tidak berbuah, Anda harus memotongnya dan menanam pohon lain," ujarnya.

    Para perempuan di Gaza pun sejatinya juga ingin menikah secepatnya. Karena itu, Hamas yang berkuasa di sana sejak pertengahan Juni 2007 mendirikan lembaga jodoh bernama Taysir. Sampai sekarang biro jodoh ini sudah menikahkan lebih dari 100 pasangan.

    Hingga tahun lalu, ada 300 wanita yang menjadi anggota. Ongkos yang harus dibayar per orang US$ 10-70, tergantung usia. Makin muda bayarannya, kian murah karena ada kemungkinan mendapat suami lebih besar. Ukuran cantik bagi para pria Gaza adalah perempuan bertubuh tinggi, berkulit cokelat muda, bermata biru atau hijau, dan berambut pirang.

    Memang menikah muda mengasyikkan. Gairah memuncak disokong stamina kuat. Namun boleh jadi para pengantin baru di Gaza tidak leluasa mengumbar syahwat mereka selama jet-jet tempur Israel masih menderu di langit Gaza.


    Associated Press | Xinhua | Faisal Assegaf


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.