Thailand Buru Penembak Demonstran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diduga pelaku penembakan yang memicu aksi bentrokan antara tentara dan demonstran Kaus Merah di Bangkok, Sabtu (10/4). [BangkokPost]

    Diduga pelaku penembakan yang memicu aksi bentrokan antara tentara dan demonstran Kaus Merah di Bangkok, Sabtu (10/4). [BangkokPost]

    TEMPO Interaktif, BANGKOK - Deputi Perdana Menteri Thailand Suthep Thaugsuban mengatakan pemerintah kesulitan dalam mencari pelaku penembakan lima tentara termasuk seorang kolonel dalam bentrokan antara pendemo Kaus Merah dan aparat di Bangkok, Sabtu (10/4). Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva mencap kelompok ini teroris.

    "Orang-orang [dibelakang aksi penyerangan] ini bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka," kata Suthep. "Tak peduli apakah yang tewas itu demonstran, tentara, atau pejabat pemerintah." Seperti dilansir harian Bangkok Post, seorang sumber di pemerintahan mengatakan pelakunya seorang bekas tentara.

    "Sekalipun dalam kondisi normal, teroris-teroris ini sulit diburu kecuali mereka keluar dari tempat persembunyiannya," kata sumber itu sebagaimana dikutip Bangkok Post. Pemerintah mengklaim bahwa pelaku penembakan itu bekerja untuk para pendukung bekas Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.

    Namun pemimpin aksi massa Kaus Merah dari Front Bersatu Menentang Kediktatoran Natthawut Saikua membantah klaim Suthep bahwa teroris itu sengaja menembaki tentara dan para pengunjuk rasa. "Tentaralah yang menembaki kami dengan misi membubarkan demonstrasi," ujar Natthawut.

    Karena itu Natthawut mendesak agar Perdana Menteri Abhisit mundur agar proses penyelidikan berjalan independen. Tim Khusus Biro Kepolisian Meteropolitan Bangkok tengah menyelediki keberadaan pelaku yang diduga bekas anggota tentara itu. Tim khusus itu kini sedang menyebarkan foto pelaku yang berhasil terekaman.

    | BANGKOKPOST | ANDREE PRIYANTO
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.