Rusia Bagian Selatan Siaga Satu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Investigator berdiri di samping mobil yang telah hancur akibat ledakan bom di Kaukasus, Rusia utara (01/04). AP Photo/Rusian Alibekov

    Investigator berdiri di samping mobil yang telah hancur akibat ledakan bom di Kaukasus, Rusia utara (01/04). AP Photo/Rusian Alibekov

    TEMPO Interaktif, Moskow -Dalam hitungan 48 jam, serangan bom kembali mengguncang Rusia. Dua ledakan kemarin mengoyak Kizlyar, wilayah Dagestan, Rusia bagian selatan. Sedikitnya 12 orang tewas dan puluhan orang lainnya terluka.

    Ledakan pertama sekitar 08.30 waktu setempat. Serangan ini dua hari setelah dua ledakan bom di kereta bawah tanah Metro Moskow yang menewaskan 39 orang dan puluhan lainnya terluka.
    Juru bicara polisi Dagestan menjelaskan, Kepala Polisi Kizlyar, Vitaly Vedernikov, adalah salah satu korban tewas. Menurut media-media Rusia, sedikitnya enam perwira polisi lainnya, seorang penyidik, dan seorang warga sipil tewas.

    Sebelumnya, Selasa lalu, polisi Rusia merilis foto-foto dua perempuan tersangka yang diyakini sebagai pelaku dua ledakan bom bunuh diri di Moskow pada pagi hari saat jam sibuk. Tim penyelidik kepolisian dan Dinas Keamanan Federal (FSB) tengah memburu tiga tersangka yang berkaitan dengan pengeboman.

    Pada sebuah sidang keamanan transportasi Selasa lalu, Perdana Menteri Vladimir Putin bersumpah akan "menyeret mereka keluar dari saluran pembuangan ke dalam terang Tuhan". Seruan lebih keras datang dari Presiden Dmitry Medvedev, yang menyebut bahwa aksi bom itu adalah serangan brutal, dan negaranya "akan memerangi terorisme tanpa ampun dan sampai akhir".

    Para penyelidik menyebut dua serangan bom di Dagestan kemarin tampak sengaja menyerang polisi. Salah satu ledakan dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri yang berseragam polisi. Pengeboman di wilayah yang berbatasan dengan Chechnya, yang kerap menyasar kantor polisi, itu juga melukai sedikitnya dua lusin warga.

    Dua serangan bom beruntun tersebut menunjukkan bahwa para pelaku menantang pemerintah Rusia. Tak ayal, badan-badan keamanan di seluruh negeri telah disiagakan sejak Senin lalu.
    Kemarin, Menteri Dalam Negeri Dagestan, Rashid G. Nurgaliyev, memerintahkan polisi untuk meningkatkan keamanan di tempat-tempat publik, seperti bioskop, sekolah-sekolah, dan universitas. "Aksi ledakan bom (di Kizylar) itu menunjukkan bahwa teroris bisa menyerang di mana pun," Nurgaliyev menegaskan.

    Sejauh ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab. Selama beberapa tahun Rusia mencoba mengatasi pemberontakan muslim di Kaukasus Utara, termasuk Chechnya.

    Di Novo-Ogaryovo, Vladimir Putin menyebut sebuah kelompok bisa jadi di belakang serangan bom Moskow dan Dagestan. "Belum tentu aksi teroris lain. Saya tidak mengesampingkan bahwa ini adalah satu rangkaian dan aksi dari geng yang sama," ujarnya kemarin, dalam sebuah rapat pemerintah.

    Putin menegaskan, serangan-serangan itu merupakan "sebuah kejahatan terhadap Rusia". Dia pun memerintahkan Rashid G. Nurgaliyev untuk memperkuat kehadiran polisi di Kaukasus Utara.
    Kizlyar terletak dekat perbatasan Dagestan dengan Chechnya, tempat pasukan Rusia terlibat dua kali perang menghadapi gerilyawan separatis sejak 1994. Sebanyak 100 ribu orang terbunuh. Beberapa tahun ini Chechnya lebih damai, tapi baku tembak merebak di Dagestan dan Ingushetia.

    Bulan lalu, pemimpin gerakan Chechen, Doku Umarov, sudah memperingatkan para pejuangnya bahwa "zona operasi militer bakal diperluas...perang bakal meruyak ke kota-kota Rusia".

    The New York Times | Reuters | BBC | Telegraph | Xinhua | Dwi Arjanto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.