Bom di Moskow Diduga Aksi Para Janda "Black Widow"

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas membawa seorang korban bom di stasiun kereta bawah tanah Lubyanka, Moskow (29/03). AP Photo/Sergey Ponomarev

    Petugas membawa seorang korban bom di stasiun kereta bawah tanah Lubyanka, Moskow (29/03). AP Photo/Sergey Ponomarev

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Banyak analis langsung menuding Chechnya berada di belakang serangan dua bom bersamaan di kereta bawah tanah Moskow, Rusia, pada Senin (29/3). Penyebabnya satu: keduanya perempuan.

    Sejak serangan kedua Rusia ke Chechnya pada 2000, gerilyawan negeri kecil mayoritas muslim di Kaukasia itu beberapa kali melakukan pengeboman di wilayah Rusia termasuk Moskow.

    Serangan itu selalu dilakukan oleh perempuan, atau minimal salah satunya perempuan. Perempuan itu kemudian dikenal sebagai "Black Widow" karena sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang suami atau saudara mereka tewas di tangan tentara Rusia.

    Black Widow sendiri mengacu pada jenis laba-laba ganas. Laba-laba betina jenis ini akan membunuh laba-laba jantan setelah mereka berhubungan seks. Itu sebabnya muncul julukan Black Widow alias "janda hitam".

    Kelompok Black Widow ini--kadang disebut "Shahidka", dari kata syahid ditambah kata "ka" yang berarti perempuan--semula dikendalikan pemimpin Chechnya Shamil Basayev.

    Setelah Basayev tewas pada 2006--Rusia mengatakan ia dibunuh lewat operasi rahasia sedang gerilyawan menyatakan ia tewas saat menangani sebuah bom--nyaris tidak ada serangan Black Widow lagi.

    Basayev kemudian diganti Umarov. Jika benar serangan ini dilakukan oleh Black Widow, maka berarti Umarov sudah seperti Basayev, mengendalikan penuh kelompok pembom bunuh diri perempuan itu.

    Black Widow sendiri semula digambarkan sebagai kelompok yang sangat religius. Gambaran ini juga ingin dikobarkan Rusia agar operasi mereka di Chechnya mendapat dukungan Barat agar cocok dengan agenda "Perang lawan Terorisme"-nya George Bush.

    Tapi kegagalan serangan bom bunuh diri yang dilakukan Zarema Muzhikhoeva pada 2004 membuka cerita lain. Ia gagal meledakan diri di sebuah kafe di Moskow pada Februari 2004 karena berhasil dilumpuhkan satpam. Bom yang dibawanya akhirnya meledak dan menewaskan polisi penjinak bom.

    Muzhikhoeva bukan dari kelompok Islam garis keras. Tapi alasannya melakukan bom bunuh diri adalah kemiskinan dan keputusasaan. Berdasarkan pengakuan kepada polisi, Muzhikhoeva mengatakan dibesarkan di kota Achkoi-Martan.

    Kota itu hancur dalam serangan Rusia ke Chechya pada 1994-1995. Ia bersekolah sampai umur 15 tahun. Saat itu ia keluar setelah hamil dengan pacarnya. Orang yang menghamili, yang sudah menjadi suami, kemudian tewas saat Rusia menyerbu Chechnya untuk kedua kalinya pada tahun 2000.

    Sesuai tradisi Chechnya, janda ini "dimiliki" oleh keluarga bekas suaminya. Oleh keluarga suaminya ia dijadikan pembantu gratis sehingga akhir melarikan diri. Ia makan dari berhutang dan mencuri.

    Akhirnya seorang pria yang meminjami uang mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk membayar utang adalah melakukan serangan bunuh diri. Hutangnya akan dibayar dan keluarga masih mendapat uang.

    Muzhikhoeva setuju, bukan hanya karena masalah utang. Ia juga ingin membalas kematian suaminya, sehingga ia dikirim ke Moskow. Di Moskow, ia selalu mendapat minum jus jeruk yang selalu membuatnya pusing.

    Saat operasi tiba, ia dikirim ke sebuah kafe di Moskow. Ia mencoba menyalakan detonator tapi gagal. Akibatnya, satpam berhasil meringkus. Bom itu sendiri akhirnya benar meledak setelah dilepas dari tubuhnya dan menewaskan polisi penjinak bos. Ia kemudian divonis 20 tahun penjara.

    Pernyataan Muzhikhoeva sendiri--bahwa ia tidak melakukan atas alasan religius--mungkin sudah dipelintir polisi. Polisi tidak pernah mengizinkan wartawan mewawancarainya sehingga tidak bisa melakukan verifikasi. Tapi jika dipelintir, Rusia rugi karena bertentangan dengan niat Moskow menyamakan kelompok separatis Chechnya dengan kelompok teroris (agama).

    Muzhikhoeva juga bukan satu-satunya Black Widow. Berikut daftar para pembom bunuh diri:

    -- Khava Barayeva
    "Black Widow" pertama. Ia meledakkan diri di pangkalan militer Rusia di Chechnya pada Juni 2000.

    --Medna Bayrokova
    Salah satu yang melakukan pengepungan Teater Moskow dikenali ibunya sebagai Medna Bayrokova, warga ibu kota Chehnya, Grozny. Ibunya mengingat anaknya, 26 tahun, yang hilang setelah ditemui seorang tamu sebulan sebelumnya pada 2002.

    -- Shakhida Baimuratova
    Melakukan bom bunuh diri pada Mei 2003  yang menewaskan 14 orang. Ia sendiri mengincar presiden Chehnya pro-Moskow, Akhmad Kadyrov. Seorang pembom lain juga ada di sana, tapi bomnya gagal meledak.

    -- Perempuan Tak Dikenal
    Seorang perempuan meledakkan diri dalam bus yang disesasi tentara Rusia pada Juni 2003. Sebanyak 17 tentara tewas.

    -- Dua Perempuan Tak Dikenal
    Dua perempuan pembom bunuh diri menewaskan 16 orang dalam sebuah konser rock di Moskow.

    -- Perempuan dan Pria
    Seorang perempuan dan seorang pria meledakkan diri pada Desember 2003 di kereta api di Yessentuki. Sebanyak 46 tewas.

    -- Khadishat Mangeriyeva
    Ia meledakkan dir pada Desember 2003 hanya beberapa ratus meter dari gedung Kremlin. Sebanyak enam tewas dalam serangan yang diduga diarahkan ke gedung parlemen itu.

    -- Zarema Muzhakoyeva
    Ia gagal meledakan diri di sebuah kafe di Moskow pada Februari 2004 karena berhasil dilumpuhkan satpam. Tapi bom yang dibawanya akhirnya meledak dan menewaskan polisi penjinak bom.

    -- Amnat Nagayeva dan Satsita Djerbikhanova
    Dua orang ini meledakan diri bersama pesawat yang ditumpangi. Mereka naik dua pesawat dan total menewaskan 46 orang.


    -- Roza Nagayeva dan Mairam Taburova

    Pada September 2004, mereka ikut dalam penyanderaan gedung sekolah di Beslan.  Menurut saksi, dua orang itu saat penyanderaan mengecam pemimpin sendiri karena sasaran penyanderaan adalah anak-anak. Mereka tewas setelah bom diledakkan dari jarak jauh.

    SCOTSMAN/GUARDIAN/NURKHOIRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.